Pages

Selasa, 14 Mei 2013

Pilihan



          

          Sebatang rokok, secangkir kopi, didepan layar laptop milik temanku, bersama mereka aku berusaha memerangi kebingungan dan kegalauanku yang akhir-akhir ini membuatku kehilangan minat untuk menulis. Yah !. Sudah beberapa hari belakangan aku tak melanjutkan aktivitas menulisku, selain karena kegalauanku untuk memilih antara tetap menjadi reporter atau berkarir di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas, juga karena pertengkaranku beberapa hari belakangan dengannya (yah, LDR memang sulit Bung !), jemariku  bingung ingin mengetik apa karena otak yang tak kunjung memberi perintah. “Hidup memang dipenuhi pilihan kawan, bahkan disaat kita tak memilih pun adalah sebuah pilihan, itu Mutlak” !. Memilih jalan hidup sama seperti memilih jawaban saat terjebak pada sebuah Ujian atau seleksi, jika kau tak memilih dengan benar maka kau akan gagal dan harus mengulangnya lagi, hanya saja hidup sedikit berbeda karena waktu tak memberimu kesempatan untuk mengulang momen saat kau memilih dan saat itu terjadi yang tersisa hanyalah penyesalan dan fantasi.

            Aku percaya ada sebuah kebaikan pada setiap pilihan, namun aku sadar bahwa akan selalu  ada setitik penyesalan pada setiap pilihan yang terabaikan, apalagi jika nantinya yang dipilih ternyata tak seindah ekspektasi atau fantasi “rasanya menyesakkan”. Aku selalu yakin bahwa Tuhan (aku percaya Tuhan itu nyata) memperkenalkan manusia pada sebuah penyesalan yang membawa penderitaan dan rasa tenang karena pilihan yang tepat, seperti kata dosen ISBD ku “Penderitaan yang memanusiakan manusia” dan kata ayahku “manis akan terasa manis setelah kita merasakan pahit”. Mereka mungkin bukan orang yang terkenal, mereka juga bukan  filsuf yang kebijakannya tak diragukan dan dialektikanya yang mengagumkan, mereka hanya orang-orang berumur yang selalu memetik makna pada setiap kepahitan hidupnya, dan dari mereka aku belajar satu hal bahwa “Penderitaan dan penyesalan yang kita rasakan karena pilihan yang salah tak seharusnya membuat kita jatuh terpuruk kedalam lubang, penderitaan dan kehidupan seharusnya memberikan semangat untuk menggapai tujuan dan sebuah hasil yang manis”. Maka !!

Tak apa jika nantinya pilihanku salah, tak mengapa jika penyesalan dan derita harus hadir sebagai konsekuensinya, dengan itu setidaknya aku mendapat pelajaran untuk ukuran sebuah pilihan yang benar”. 

Mari kita belajar dari setiap pilihan, tak peduli benar atau salah sebuah pilihan, kita harus tetap mengayunkan langkah diatas jalan yang bernama kehidupan, mari jalani hidup dengan positif agar setiap kegagalan menjadi lebih bermakna dan usaha akan terasa lebih manis nantinya saat dia terwujudkan.  

Kamis, 09 Mei 2013

Good Bye, Orange !!


Mungkin ini hari terakhirku merajut cerita bersamanya. Jas Orange yang memberi warna, memberi dinamika. Dengan sejuta cerita yang tersimpan dibalik kain Jas orange yang telah lusuh karena, debu, dan keringat, mungkin jika semua ceritaku bersamanya kutuliskan akan menjadi buku dengan milyaran halaman.

Sayang hari ini adalah hari perpisahan, hari yang meski tampak menyenangkan dan melelahkan, namun kelak akan menjadi menjadi kenangan yang selalu hadirkan kerinduan. Awal mengenakannya aku merasakan atmosfir kebanggaan terhadap identitas baruku sebagai mahasiswa, waktu itu hari akhir pos pengaderan Masa Bimbingan Mahasiswa yang disingkat "Mabim". Namun sayangnya atmosfir kebanggaan itu tak bertahan begitu lama terasa, jas almamater itu kehilangan substansinya karena terus digunakan tanpa pertimbangan kondisional membuat kami merasa jenuh hingga akhirnya mengaksidentalkan kesakralan jas orange itu. Gerah, dan rasanya sangat tak nyaman harus mendengar pertanyaan yang aku sadari sebagai sebuah cibiran dari teman-teman fakultas yang terlanjur memandang kami sebagai penghuni kelas ekslusif karena memang nampaknya hanya para mahasiswa baru Psikologi yang benar-benar menikmati esensi dari penggunaan jas almamater, namun itu juga yang akhirnya membuatku merasa wajib untuk mensyukuri aturan perihal pemakaian jas yang dianggap teman-temanku sebagai sebuah sistem pembodohan karena harus dikenakan terlalu lama meski akhirnya kami harus kembali tertunduk mendapat wejangan karena melayangkan aksi protes dan pertanyaan retoris yang terkesan memberi perlawanan pada BEM. Saat itu konstitusi menjadi argumentasi konkrit untuk melawan aksi protes kami, kami diperlihatkan draft yang berisi aturan tambahan hasil Mumpsi dan lokakarya pengaderan yang membahas perihal pemakaian jas alamamater, namun sekali lagi itu yang kembali membuatku merasa lebih pada akhirnya, karena waktu membuatku  mesra dan memiliki banyak cerita bersama jas almamater orangeku.

Yah ! memang benar rasanya lega setelah lepas dari kegerahan karena tak harus memakainya saat memasuki kampus, dan memang benar nyaman rasanya saat akhirnya tak lagi terpetakan secara fisik karena apa yang dikenakan. Namun rasanya tak biasa jika kekampus dan tak pergi bersamanya, mungkin saatnya kau beristirahat bersama yang lain didalam lemari  bersama gantungan dan pakaian lainnya. Akan kubangunkan kau nanti sebagai sebuah kebanggaan, bukan lagi karena sebuah belenggu aturan yang membuatku kadang benci padamu. "selamat beristirahat" !!.

Senin, 06 Mei 2013

INDONESIA POSITIVE MOVEMENT (Untuk Hidup yang lebih Baik)



Siang tadi aku berjumpa dengan kak Wawan salah seorang seniorku di Psikogenesis, dia mengajakku untuk bergabung dalam sebuah komunitas yang dia beri nama “Indonesia Positive Movement” . Karena aku tak begitu paham dengan bahasa inggris maka jelas aku tak tahu komunitas seperti apa yang kak Wawan maksud, dan setelah diberi penjelasan aku  baru mengerti kalau komunitas yang kak Wawan maksud adalah sebuah komunitas yang beranggotakan para blogger atau kurang lebih penulis penghuni dunia maya dari fakultas Psikologi. Berdasarkan instruksi dari kak Wawan kami diminta untuk memposting semua kegiatan kami dalam satu hari di blog kami masing-masing, dan semua masalah yang kami hadapi dalam sehari kemudian memaknainya secara positif dengan tujuan merekonstruksi pola pikir kami agar menjadi lebih positif. 

Jujur sebenarnya aku agak sanksi dengan pemaparan kak Wawan, tapi aku pikir ini layak untuk dicoba setidaknya lumayan untuk membuat akun Tumblr atau Blogku sedikit lebih ramai dengan susunan kata dan kalimat positif dan pembaca jadi punya lebih banyak pilihan saat membaca tulisanku. Dan kuharap ini adalah sebuah awal yang kecil untuk hasil yang lebih besar nantinya.