Sebatang rokok, secangkir kopi,
didepan layar laptop milik temanku, bersama mereka aku berusaha memerangi
kebingungan dan kegalauanku yang akhir-akhir ini membuatku kehilangan minat
untuk menulis. Yah !. Sudah beberapa hari belakangan aku tak melanjutkan
aktivitas menulisku, selain karena kegalauanku untuk memilih antara tetap
menjadi reporter atau berkarir di BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) Fakultas,
juga karena pertengkaranku beberapa hari belakangan dengannya (yah, LDR memang
sulit Bung !), jemariku bingung ingin
mengetik apa karena otak yang tak kunjung memberi perintah. “Hidup memang
dipenuhi pilihan kawan, bahkan disaat kita tak memilih pun adalah sebuah
pilihan, itu Mutlak” !. Memilih jalan hidup sama seperti memilih jawaban saat
terjebak pada sebuah Ujian atau seleksi, jika kau tak memilih dengan benar maka
kau akan gagal dan harus mengulangnya lagi, hanya saja hidup sedikit berbeda
karena waktu tak memberimu kesempatan untuk mengulang momen saat kau memilih
dan saat itu terjadi yang tersisa hanyalah penyesalan dan fantasi.
Aku percaya ada sebuah kebaikan pada
setiap pilihan, namun aku sadar bahwa akan selalu ada setitik penyesalan pada setiap pilihan
yang terabaikan, apalagi jika nantinya yang dipilih ternyata tak seindah
ekspektasi atau fantasi “rasanya menyesakkan”. Aku selalu yakin bahwa Tuhan (aku
percaya Tuhan itu nyata) memperkenalkan manusia pada sebuah penyesalan yang membawa
penderitaan dan rasa tenang karena pilihan yang tepat, seperti kata dosen ISBD
ku “Penderitaan yang memanusiakan manusia” dan kata ayahku “manis akan terasa
manis setelah kita merasakan pahit”. Mereka mungkin bukan orang yang terkenal,
mereka juga bukan filsuf yang kebijakannya
tak diragukan dan dialektikanya yang mengagumkan, mereka hanya orang-orang
berumur yang selalu memetik makna pada setiap kepahitan hidupnya, dan dari
mereka aku belajar satu hal bahwa “Penderitaan dan penyesalan yang kita rasakan
karena pilihan yang salah tak seharusnya membuat kita jatuh terpuruk kedalam
lubang, penderitaan dan kehidupan seharusnya memberikan semangat untuk
menggapai tujuan dan sebuah hasil yang manis”. Maka !!
“Tak apa jika nantinya pilihanku salah, tak
mengapa jika penyesalan dan derita harus hadir sebagai konsekuensinya, dengan
itu setidaknya aku mendapat pelajaran untuk ukuran sebuah pilihan yang benar”.
Mari
kita belajar dari setiap pilihan, tak peduli benar atau salah sebuah pilihan,
kita harus tetap mengayunkan langkah diatas jalan yang bernama kehidupan, mari
jalani hidup dengan positif agar setiap kegagalan menjadi lebih bermakna dan
usaha akan terasa lebih manis nantinya saat dia terwujudkan.

