Pages

Jumat, 25 April 2014

Aku Benci Jadi Demonstran




Aku tak terlahir berani
Hingga kini tak berani
Makanya aku lari dan sembunyi
Kala dikejar atau dicari polisi
Aku bukan orang suci
Makanya aku tak peduli
Meski aku tengah berdiri
Di atas jasad saudara yang mati
Yang kupenggal agar dapat tetap berdiri
Aku itu pengecut
Sebab aku masih takut
Pada aparat yang bawa pecut
Aku takut sakit kena lecut
Aku benci jadi demonstran
Sebab karena aku melawan
Tiap hari harus sembunyi ketakutan
Lari dari todongan senapan

Barru di persinggahan,saat berlindung dari genggam sang hujan

Kamis, 17 April 2014

Makassar Pinggiran (Pesan Buat Calon Presiden)



1.      Di Makassar pinggiran
Ada bocah usia belasan
Mengamen, berjualan koran
Sepanjang emperan jalan
Mereka tak kenal jajan
Cukup diberi makan
Atau orang serumah tak kelaparan
Maka syukur pasti dipanjatkan
2.      Di Makassar pinggiran
Ada bocah bercucuran peluh
Lelah seharian menjadi buruh
Putus sekolah demi nafkah
Menjual lelah dengan murah
Tanpa istirahat hanya dapat upah :
Sehari tiga ribu rupiah
3.      Di Makassar pinggiran
Puluhan dewasa dan lansia ketakutan
Kalang kabut mencari perlindungan
Sebab kabar penggusuran
Datang dari orang pemerintahan :
“Rumah kalian akan diratakan,
buat membangun perusahaan !”
4.      Di Makassar pinggiran
Orang pinggiran pada bertanya :
Apa guna pemerintah ?
Jika masih ada bocah putus sekolah
Apa arti kemerdekaan ?
Bagi mereka yang ketakutan
Alih-alih dapatkan perlindungan
Malah tertindas oleh harapan :
“Orang-orang pemerintahan”
5.      Dari Makassar pinggiran
Kepada calon presiden aku berpesan
Jika kelak engkau yang jadi tuan
Tolong segera wujudkan :
“Keadilan yang kau janjikan !”

Makassar pinggiran, 11 april 2014

Tentang Hukum di Sebuah Negeri



1.      Hukum Negeri ini tengah sekarat
Sebab kemarin aku lihat :
Seorang aparat baru dipecat
Setelah menangkap seorang pejabat
Yang berkerabat dengan lintah darat
Oleh atasan, si aparat dipecat
Untuk melunasi hutang pada si lintah darat
2.      Hukum Negeri ini tak punya mata
Buta. Habis dicongkel kuasa
Agar penguasa menindas dengan leluasa
Agar bisa merampas tanpa memaksa
Kumpulan dewasa tak berdaya
Sebab tak punya kuasa
Kumpulan dewasa tak bersuara
Sebab ketakutan dan putus asa
3.      Hukum Negeri ini habis “dikebiri !”
Oleh para pejabat yang korupsi :
Dari Bupati hingga para Menteri
Juga wakil rakyat yang berjanji :
Basmi korupsi ! “ternyata fiksi”
4.      Hukum Negeri ini, telah jadi jenazah
Jasadnya terbujur resah
Arwahnya selalu gelisah
Karena senjata tak terasah
Dalam perang ia kalah

Hukum di Negeri ini “Ah, sudahlah !”

April, sabtu pagi dalam kontemplasi

Jumat, 11 April 2014

Generasi Dungu (Generasi Dua Ribu)




Telah lahir sebuah generasi
Yang isinya muda-mudi
Berjiwa kerdil tak berani
Bahkan untuk meminta hak sendiri
Belajar penuh sesak
Dalam ruang tanpa jendela
Tunduk tak bicara
Dalam sebuah sistem tanpa hak suara
Uang kuliah selangit
Buat membangun gedung pencakar langit
(Katanya simbol pendidikan berkualitas)
(Nyatanya investasi birokrasi)
Padahal mereka membayar
Agar dapat tempat belajar
Bukan buat lahan usaha para pengajar
Mengkritik pengajar yang salah, dianggap kurang ajar
Salah saat ditanya dikira tak belajar
Rambut tak boleh melewati bahu
Bolehnya yang model serdadu
Semuanya dituruti tanpa ragu
Tak pernah mau tahu kenapa seperti itu
Mungkin seperti itu yang disebut dungu
Generasi dungu
Generasi Dua Ribu
Hidup seperti kerbau
Siap garap lahan
Asal diberi makan