1
Edelweis pasti layu
bila kau jauhkan dari puncak pegunungan. Aku tak berbeda, bakal tak berdaya
bila jauh dari seorang perempuan.
2
Aku bukan malaikat yang
diciptakan tanpa perasaan. Bukan pula setan yang lihai menjerumuskan. Aku tak
lebih dari manusia, yang berdasar ketentuan Tuhan pasti bakal terjerumus
perasaan, tak terhindarkan.
3
Jangan kau tanya soal
kebenaran cinta sebab aku tak pernah belajar. Jangan pula soal penciptaan sebab
akupun masih buta. Tanyakan saja “apa aku bisa, jauh darimu barang semenit
saja”. Pasti kujawab “bisa” sebab kita manusia yang dalam ketentuan kitab tak
bisa selalu bersama.
4
Sebut aku sarkastis
semaumu, atau skeptis sesuka hatimu. Lakukan hal yang tak bakal membuatmu buta
mencintaiku. Aku benci bila nanti kau jadi yang paling setia menangis di atas
nisanku. Cintailah aku sewajar manusia mencintai sayangku. Aku benci melihatmu
terpenjara dalam luka karena bayang kematianku.
5
Maaf bila yang
kutinggalkan untukmu nanti bukan warisan selayaknya suami. Maaf pula soal
kehidupan yang tak pernah layak kau jalani sebagai seorang istri. Maafkan atas
kemiskinanku yang tak bisa meninggalkanmu apapun selain kehilangan. Semua
salahku sebab selalu bersikap selayaknya pahlawan. Aku benar-benar lupa “kita
hidup di sekitar para bajingan”.
6
Sayangku, mengertilah
soal kematianku. Jangan melulu kau tangisi hingga genap ratusan minggu. Ini
semua buat anak-anakku. Supaya mereka bangga punya ayah seperti aku. Juga
tumbuh dewasa dan menjadi bijak tanpa nasehatku, cukup dengan mendengar
kisahku.
Makassar 2014. Menunggu jam 10.