Pages

Senin, 24 November 2014

Kelana Ada Dimana ?


Mari kita anggap ini sebagai fiksi mini , yang tak pernah terjadi :) !!!

Kelana selalu percaya bahwa hidup adalah sebuah ketetapan. Seperti orang Yunani yang percaya kalau jalan hidup tiap orang telah dinukilkan di atas bintang “determinisme” guru filsafat Kelana bilang. Sebab kepercayaan yang sama Yunani melahirkan astronomi, menamai tiap rasi, kemudian menebak nasib orang yang lahir beriringan dengan linimasa sebuah rasi (orang Yunani memang gemar berjudi).  

Suatu ketika Kelana dipertemukan (mungkin oleh Tuhannya) dengan seorang wanita yang lahir di lingkaran rasi yang sama, rasi dalam zodiak bergambar kepala sapi bermata penuh benci. Mungkin karena rasi mereka sama, kesamaan mereka ada beberapa Kelana kira. Mereka sama-sama pernah dididik di sekolah berasrama, sama-sama tak makan sayur juga, sama-sama kehilangan seseorang yang secara mutlak sama berartinya, dan mungkin saja kisah cinta masa lalu mereka sama buruknya (yang mereka kejar terlalu sempurna sepertinya). 

Kelana pernah berpikir, betapa menyenangkannya bila kelak menemukan seseorang yang bernasib serupa, betapa mengertinya kira-kira dia pada yang Kelana rasa (apalagi jika manusia). Sayangnya Kelana tak pernah menyangka bahwa manusia dalam dugaannya adalah seorang wanita, sosok manusia yang mengisi ketakutan masa lalunya. Guru Kelana pernah berkata “mereka yang sama, dalam ketentuan para dewa biasanya tak bersama” sialnya Kelana berharap gurunya yang tak pernah salah kali ini salah, sekali saja pikirnya (toh, sang guru bukan Tuhan).

Karena sudah terlanjur bertemu, Kelana rasa tak ada salahnya menjalani pertemanan. Toh meskipun dia wanita, asal Kelana tak jatuh cinta tak akan ada masalah. Sayangnya dalam peraduannya Kelana kalah, sialnya cara Kelana jatuh cinta masih sebodoh biasanya ( sepertinya Kelana tak pernah benar-benar belajar dari masa lalunya, dan dari gurunya tentunya). Sementara itu sang wanita masih ketakutan, belum berani mengambil keputusan. Dia coba membunuh harapan, dia coba hindari tiap pertemuan. Tapi bukannya berhenti, Kelana malah semakin menanti. Kelana bukannya tak mengerti, tapi sejauh yang Kelana pahami sesuatu yang tak pasti memang pantas untuk dinanti. Dan harapan “bukankah memang demikian hakikat perjuangan ?” begitu pikir Kelana. Sebenarnya  Kelana ingin marah kepada tiap pria yang ingin mendekati sang wanita, ingin juga dia marah kepada sang wanita yang selalu menghindarinya. Tapi “siapa Kelana ?” ujar pikirannya, dan kalaupun Kelana adalah siapa “apa haknya mengatur hidup seseorang wanita ?” lagi-lagi Kelana takluk oleh pikiran sendiri.

Lalu kelana pergi bersembunyi, dia berharap akan dicari. Sebenarnya Kelana paham usahanya nisbi “tapi dimanapun di seluruh dunia bukannya selalu lebih berharga usaha daripada diam saja ?” pikir Kelana, jadi tak ada salahnya. Sayangnya karena terlalu lama sembunyi, Kelana lupa dirinya sedang sembunyi. Kelana malah tenggelam dalam romantisme perang atas nama ideologi, lalu mati. Sedang sang wanita lupa Kelana pernah ada, dan menjalani hidup seperti biasa lalu bahagia. Ah, sepertinya determinasi orang Yunani hanya bualan saja “Rupanya tak semua yang bermula sama, berakhir di ujung jalan yang searah” lagi-lagi seperti itu pikir pikiran Kelana yang sekarang tak lagi punya Kelana, jasad Kelana entah ada dimana.

Penulis*Bukan kelana, tapi selalu berdoa entah kepada Tuhan yang mana agar tak bernasib seperti Kelana.

Sabtu, 15 November 2014

Kira-Kira Bagaimana ? Atau Seharusnya Begini Saja !



Puisi ini untuk Penguasa yang mati rasa, Aparat kepolisian yang mati nuraninya, dan mereka yang pura-pura buta dan gemar tutup telinga.

Kira-kira bagaimana ?, atau seharusnya begini saja ! :
Negara ini cukuplah buat penguasa
Karena warga, juga mahasiswa dan media massa
Omongan mereka, tak berguna
Suara mereka angin lalu saja.
Pada akhirnya keputusan  tetaplah di tangan penguasa.

Kira-kira bagaimana ?, atau seharusnya begini saja ! :
Demonstrasi mahasiswa tak perlulah pakai kekerasan.
Tak perlulah juga tutup jalan, apalagi sampai ada pengrusakan.
Asal penguasa benar-benar mau mendengar rintihan.
Asal penguasa sungguh pedulikan derita rakyat pinggiran.
Bukankah semuanya bisa aman ?
Tapi lihat kenyataan kawan !

Kira-kira bagaimana ? atau seharusnya begini saja ! :
Aparat kepolisian slogannya diganti saja.
Dari mengayomi jadi memerangi warga.
Tuan sekalian jangan lupa,
Bukankah brutalnya polisi kita tak terjadi kemarin saja.
Petani gula di takalar sana,
Saudara-saudaraku di pandang raya,
Kawan-kawan buruh di soroako yang menuntut haknya.
Kemana mata kita saat mereka yang tersiksa ?
Bukankah kita dan mereka adalah sesama warga.
Jangan dustai hatimu kawan,
Bukankah warga Negara Indonesia bukan hanya mahasiswa dan media massa ?

Kira-kira bagaimana ? atau seharusnya begini saja ! :
Polisi yang gemar memerangi warga,
Pindahkan saja ke wilayah perbatasan !
Bukankah mereka begitu menyenangi peperangan ?
Bukankah lebih bermanfaat kecintaan pada perang,
Buat memerangi musuh Negara, atau korupsi yang memiskinkan kita.

Kira-kira bagaimana ? atau seharusnya kusimpulkan saja ! :
Penguasa Negeri ini mati rasa,
Pengayom warga mati nuraninya,
Sedang kebanyakan kita hanya peduli pada kelompoknya,
Kepada yang lain, kita pura-pura buta atau tutup telinga.
Sudahlah, Negeri ini bubarkan saja.


Penulis* pernah jadi korban penganiayaan atas nama pengamanan oleh aparat kepolisian, karena berusaha melindungi seorang teman.




Jumat, 14 November 2014