Pages

Senin, 10 Juni 2013

yang baik dan yang benar

     Tugas menjelang final dan beberapa diantaranya terakhir dikumpul besok hari, sementara aku masih disini terjebak pada sebuah rutinitas yang statis ala homo sapiens. Bedanya aku tidak melakukan perburuan untuk menyambung hidup karena  diera ini kau cukup memilki beberapa lembar kertas untuk sepotong daging, kau bisa memiliki daging sebanyak kau memilki kertas itu. Hal lain yang menjebakku dan menjadi rutinitas tiap selasa adalah jadwalku mengajar sosiologi di asrama tempatku tinggal dulu, yah ! rutinitas yang terdengar abnormal untuk seorang mahasiswa pemilik IPK standar 2,71 yang menghabiskan malamnya didepan layar monitor dengan beberapa bunkus rokok untuk membaca komik, menulis cerita hidupnya yang malang, bertualang dimedia sosial, dan kadang dibeberapa waktu bersama dengan teman-temannya mematikan saraf otak dengan beberapa botol minuman keras dan beberapa linting ganja.

       Satu-satunya hal yang membuatku merasa lebih normal adalah saat aku merasa masih lapar dan buang air besar  seperti manusia pada umumnya !. Mungkin sepintas hidupku terlihat normal diera hedonis dan kota sebesar  ini, dimana minuman keras dan berbagai perilaku menyimpang lainnya menjadi simbol status dalam pergaulan para remaja dan beberapa kelompok orang dewasa, dimana semakin banyak penyimpangan yang kau lakukan semakin mudah kau diterima dalam pergaulan, didesaku yang terjadi adalah sebaliknya meski banyak juga yang serupa “aku salah satunya” !. Kadang untuk beberapa saat aku mencoba keluar dari rutinitas seperti itu, tapi aku tak pernah lepas dari hal berbau hedonis dan menyimpang seperti itu karena aku bukan tipe manusia yang merasa baik-baik saja saat dikucilkan dalam pergaulan. Meskipun aku introvert  aku tetap butuh relasi yang luas untuk beberapa alasan.

    Aku kenal beberapa orang yang hidup dengan cara yang sama sepertiku, yang hidup dibanyak kelompok kemudian menggunakan persona dan entitas sebagai alat untuk membungkus kepalsuan yang ada,kurang lebih seperti topeng dengan ekspresi senyum yang kau gunakan untuk menyembunyikan raut kebencian. Aku memainkan teori peran milik Biddle dan Thomas sama seperti manusia pada umumnya dan berkat itu aku tetap terlihat normal didepan mata manusia biasa, tapi justru itu yang membuatku merasa menjadi abnormal, kadang disatu kelompok aku menjadi seorang penuh kebijaksanaan, dikelompok lain aku menjadi seorang yang cerdas dengan ide-ide cemerlang, namun dikelompok lainnya aku hanya  terlihat sebagai orang yang ahli dalam hal omong kosong. 

    Kadang aku merasa muak dengan diriku saat aku memainkan semua peran itu,  aku selalu merasa diperbudak oleh ketakutan yang membuatku pasrah  hidup dalam kebohongan. Separuh hidupku diisi dengan kepura-puraan, dan sekarang kejenuhan mulai memaksaku berhenti berbohong dan hidup lebih jujur terutama untuk diriku sendiri. Setelah kepindahanku dari asrama beberapa minggu yang lalu aku mulai hidup sendiri menutup diri untuk beberapa kelompok dengan niat menghentikan peran palsu yang kumainkan selama ini dan kembali menjadi diriku yang seharusnya , dalam kesendirian kali ini aku malah lebih banyak merenung ketimbang berbagi “aku sadar ada beberapa hal yang tak perlu kita bagi dengan orang lain”. Dalam perenunganku aku mulai memikirkan waktu yang selama ini kubuang hanya agar aku bisa mendapat tempat dalam kelompokku, meski harus menjadi orang lain.

     Mungkin sekembalinya kebenaran dari tidur panjangnya, tak akan mengubah banyak hal tentang persepsi diriku. Tetap ada kemungkinan buruk untuk itu, dan aku masih merasakan ketakutan membayangiku saat aku mencoba menjadi diriku. Tapi beginilah seharusnya aku, meski harus membuang beberapa hal baik tentangku yang nyatanya adalah kebohongan. Setidaknya, meski kehilangan hal baik nantinya aku tetap melakukan hal yang benar pastinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar