Tugas menjelang final dan beberapa diantaranya terakhir dikumpul
besok hari, sementara aku masih disini terjebak pada sebuah rutinitas
yang statis ala homo sapiens. Bedanya aku tidak melakukan perburuan
untuk menyambung hidup karena diera ini kau cukup memilki beberapa
lembar kertas untuk sepotong daging, kau bisa memiliki daging sebanyak
kau memilki kertas itu. Hal lain yang menjebakku dan menjadi rutinitas
tiap selasa adalah jadwalku mengajar sosiologi di asrama tempatku
tinggal dulu, yah ! rutinitas yang terdengar abnormal untuk seorang
mahasiswa pemilik IPK standar 2,71 yang menghabiskan malamnya didepan
layar monitor dengan beberapa bunkus rokok untuk membaca komik, menulis
cerita hidupnya yang malang, bertualang dimedia sosial, dan kadang
dibeberapa waktu bersama dengan teman-temannya mematikan saraf otak
dengan beberapa botol minuman keras dan beberapa linting ganja.
Satu-satunya hal yang membuatku merasa lebih normal adalah
saat aku merasa masih lapar dan buang air besar seperti manusia pada
umumnya !. Mungkin sepintas hidupku terlihat normal diera hedonis dan
kota sebesar ini, dimana minuman keras dan berbagai perilaku menyimpang
lainnya menjadi simbol status dalam pergaulan para remaja dan beberapa
kelompok orang dewasa, dimana semakin banyak penyimpangan yang kau
lakukan semakin mudah kau diterima dalam pergaulan, didesaku yang
terjadi adalah sebaliknya meski banyak juga yang serupa “aku salah satunya” !.
Kadang untuk beberapa saat aku mencoba keluar dari rutinitas seperti
itu, tapi aku tak pernah lepas dari hal berbau hedonis dan menyimpang
seperti itu karena aku bukan tipe manusia yang merasa baik-baik saja
saat dikucilkan dalam pergaulan. Meskipun aku introvert aku tetap butuh relasi yang luas untuk beberapa alasan.
Aku kenal beberapa orang yang hidup dengan cara yang sama sepertiku, yang hidup dibanyak kelompok kemudian menggunakan persona dan entitas
sebagai alat untuk membungkus kepalsuan yang ada,kurang lebih seperti
topeng dengan ekspresi senyum yang kau gunakan untuk menyembunyikan raut
kebencian. Aku memainkan teori peran milik Biddle dan Thomas sama
seperti manusia pada umumnya dan berkat itu aku tetap terlihat normal
didepan mata manusia biasa, tapi justru itu yang membuatku merasa
menjadi abnormal, kadang disatu kelompok aku menjadi seorang penuh
kebijaksanaan, dikelompok lain aku menjadi seorang yang cerdas dengan
ide-ide cemerlang, namun dikelompok lainnya aku hanya terlihat sebagai
orang yang ahli dalam hal omong kosong.
Kadang aku merasa muak dengan diriku saat aku memainkan semua
peran itu, aku selalu merasa diperbudak oleh ketakutan yang membuatku
pasrah hidup dalam kebohongan. Separuh hidupku diisi dengan
kepura-puraan, dan sekarang kejenuhan mulai memaksaku berhenti berbohong
dan hidup lebih jujur terutama untuk diriku sendiri. Setelah
kepindahanku dari asrama beberapa minggu yang lalu aku mulai hidup
sendiri menutup diri untuk beberapa kelompok dengan niat menghentikan
peran palsu yang kumainkan selama ini dan kembali menjadi diriku yang
seharusnya , dalam kesendirian kali ini aku malah lebih banyak merenung
ketimbang berbagi “aku sadar ada beberapa hal yang tak perlu kita bagi
dengan orang lain”. Dalam perenunganku aku mulai memikirkan waktu yang
selama ini kubuang hanya agar aku bisa mendapat tempat dalam kelompokku,
meski harus menjadi orang lain.
Mungkin sekembalinya kebenaran dari tidur panjangnya, tak akan
mengubah banyak hal tentang persepsi diriku. Tetap ada kemungkinan buruk
untuk itu, dan aku masih merasakan ketakutan membayangiku saat aku
mencoba menjadi diriku. Tapi beginilah seharusnya aku, meski harus
membuang beberapa hal baik tentangku yang nyatanya adalah kebohongan.
Setidaknya, meski kehilangan hal baik nantinya aku tetap melakukan hal
yang benar pastinya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar