Darah
mulai mengucur pelan bersama desahan napas yang keluar dari mulutnya, rambutku
basah karena darah segar. Aku bangkit setelah kunciannya lepas, sekarang dia
terkapar di tengah arena dalam keadaan tak sadar dengan tatapan kosong yang mengarah
ke langit-langit kamar. Aku menang berkat sentuhan terakhir, sundulan pada
rahang, menggunakan tengkorak yang keras berlapis kulit manusia dengan daki
yang tebal dan mengeras seperti semen karena bercampur air keringat.
Para santri bersorak untuk
kemenanganku, tawaku pecah bersama rasa puas dalam pikiranku. Sekarang, wajahku
berwarna merah pekat di bawah terang cahaya lampu kamar.
*******
Aku
terpojok dengan sempurna pada salah satu ranjang susun milik teman sekamarku.
Staminaku nyaris habis terkuras, pada beberapa bagian, tubuhku sudah mulai
terasa pegal karena beberapa pukulan telak yang kuterima.
“Aku
belum makan,” Aduku pada mereka semua.
“Beri
dia makan!” teriak Madong, salah satu pimpinan berandal asrama kamar bawah,
selain Surya dan Zakaria.
“Jatah
makanan sore yang belum tersentuh tangan, bawa semuanya ke sini, cepat dia
butuh makan!” Zakaria menyambung perintah yang Madong berikan pada beberapa
orang santri baru yang ikut menjadikanku tontonan. Bagi kami para santri yang tak paham memainkan handphone karena memang tak ada toleransi bagi santri yang membawa handphone, juga tak pernah dapat hiburan
pantas sekelas televisi, atau komik, apalagi mainan semewah internet, maka
perkelahian bagi kami adalah
satu-satunya hiburan paling terjangkau, sekaligus solusi paling awam untuk
menyelesaikan masalah antara kami para santri. Bahkan untuk urusan tetekbengek seperti tak mengepel lantai
di hari piket kebersihan
Untuk
pertama kalinya, setelah tiga tahun mondok disini, baru hari ini aku mampu
melahap habis menu makanan sore asrama, para santri lebih senang menyebutnya
telur monster, telur yang dicampur dengan entah berapa kilo terigu dan beragam sayuran kemudian dikukus dan
dibiarkan matang seadanya, jika terkena air sedikit saja akan sempurna, terlihat
lebih mirip muntahan kucing ketimbang makanan untuk manusia.
.
Sejujurnya, rasa makanan itu sama sekali tak berubah, aku hanya menahan muntah
agar tubuhku bisa kembali mendapat asupan tenaga. Mungkin Ini penderitaan kedua
yang aku alami selain pertarungan bodoh yang menguras habis seluruh kalori.
Aku merasa segar kembali, makanan
yang tadi kumakan, sepertinya mulai terolah menjadi kalori dan energi. “Aku
siap kembali ke arena.”
Lawanku hari ini berbadan besar,
bukan kekar, juga bukan ukuran tubuh yang ideal, benar-benar besar dalam arti
yang harfiah, pantasnya kita menyebutnya obesitas.
Jangan pikir karena ukuran tubuh dia lamban sehingga perkelahian ini menjadi
mudah, sebaliknya, dia lawan yang menyusahkan. Kunciannya dapat membuat tulang
punggungmu patah, dan pukulan biasa tak akan mampu membuatnya tumbang. Aku
curiga, dia sebenarnya mantan atlet sumo
Jepang. Tinjunya besar, meski tak mematahkan tulang, tapi mampu meninggalkan
bekas memar yang menyiksa kulit karena menegang.
Sedangkan aku, hanya seorang anak
dari perkampungan nelayan yang timbangannya tak berat dari sekarung ikan teri.
Satu-satunya modal yang kumiliki dan membuatku punya pikiran untuk akhirnya mau
melawan si besar Eka, adalah dukungan yang bersinonim dengan perintah dari para
berandal asrama. Sepertinya mereka punya dendam yang mendarah daging pada Eka.
Selebihnya selain dukungan, yang kumiliki hanya keyakinan, dan asupan tenaga
dari muntahan kucing yang baru saja kumakan.
Para santri kembali bersorak saat
melihatku bangkit untuk kembali ke arena, Eka memang belum makan seharian, tapi
aku yakin dia masih dapat bertahan selama beberapa jam pertarungan, perut dan
pipi yang lebar kuyakini memang dipersiapkan untuk sebuah pertarungan ekstra
ronde tanpa makan. Aku curiga, pipi dan perutnya bisa menyimpan cadangan
makanan untuk sebulan seperti punuk pada hewan padan pasir yang kita namai
“unta”. Tapi, aku tak ketakutan, aku malah semakin bersemangat dan masih yakin
akan meraih kemenangan.
Pertarungan dimulai kembali, aku
mengawalinya dengan satu tendangan terbang yang tepat mengarah pada dada Eka,
membuatnya tersungkur ke belakang, memberiku kesempatan untuk mengakhiri
pertarungan dengan cepat. Dia memelukku seperti keluarganya yang baru dia temui
setelah belasan tahun berpisah, sangat erat, namun tanpa kasih sayang dan
tumpahan rindu. Sebaliknya, malah penuh amarah dan keinginan besar untuk
membunuh. Ini kuncian yang kumaksud sebelumnya.
Aku semakin terdesak, disaat yang
sama aku tersedak. Eka semakin merapatkan kunciannya, aku tak dapat memuntahkan
pukulan meski aku yang menindihnya, kalaupun bisa, pasti tak bertenaga dan tak
melukainya. Siku, iya, sikuku masih bebas dari jangkauan kunciannya.
Kukumpulkan seluruh tenaga yang masih ada, kufokuskan semuanya pada kedua ujung
sikuku, lalu kuhantamkan pada kedua pipinya berulang kali hingga lebam. Eka
belum menyerah, kunciannya masih sekuat sebelumnya, aku tak kehabisan akal, dia
pasti sudah mulai merasakan sakit pada dua pipi yang lebam.
Di detik-detik akhir perkelahian,
saat aku nyaris kehabisan nafas dan akal. Kepalaku tiba-tiba terasa tebal,
mataku menjadi lebih awas, hitungan detak jantungku jadi lebih banyak. Perlahan
kesadaranku memudar, kepalaku yang mulai berat kubenturkan saja pada lantai
asrama agar sakitnya hilang. Mataku terpejam sesaat, dari belakang kepalaku
mulai mengalirkan darah di atas lantai yang berjarak. Eka melepaskan
kunciannya, dipikirnya dia habis membantai seorang anak kampung nelayan
kemudian tertawa. Tapi ini belum berakhir, kuhantamkan keningku pada bibir
atasnya hingga mengucurkan darah
Sebuah
malam, di dalam kamar berbau mayat.
_MuhShanK_
Ilustrasi Gambar : Googling