Danau Hitam
Danau
itu berwarna hitam, sehitam malam yang habis diguyur hujan. Aku, tadinya curiga
danau ini pernah terbakar, namun kutepis saat mengingat semua danau sama terisi
oleh air. Air tak akan terbakar, sudah seperti itu ketentuannya, sejak dulu, jauh
sebelum dimulainya kehidupan, Tuhan telah mengatur segalanya dengan sempurna.
Hipotesis
paling sederhana dan masuk akal, danau ini dulunya sejernih telaga, namun
menghitam karena ulah tangan manusia yang tak paham cara menghargai alam. Atau
mungkin danau ini memang tidak Tuhan peruntukkan bagi manusia, melainkan rumah
bagi mahkluk air yang tak diberkahi perlindungan natural agar bisa hidup lebih
lama berdasarkan ketentuannya.
Tempat
ini sungguh lebih dari sempurna untuk sebuah kontemplasi panjang, tentang
Tuhan, tentang hubungan manusia dan alam, atau tentang hal metafisik yang tak
terjangkau akal pikiran manusia. Maka cukuplah adanya danau lain menjadi
rahasia, agar tak lagi tersentuh tangan manusia. Agar tak ada lagi danau jernih
yang berubah hitam seperti malam. Atau kisahkan para manusia serakah, tentang
indahnya telaga yang terjaga, sadarkan mereka dengan kekuatan kata, ciptakan
dunia dengan kumpulan danau dan telaga yang indah, bukan lagi sekedar kisah.
Tapi menjadi sebuah wujud nyata.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar