1 Oktober 2013 pukul 7:47
Telah aku berkisah tentang “Negeri
yang Terbiasa”.
Sudah juga tentang “Tanah Para
Ksatria”.
Kali
ini akan kukisahkan tentang sebuah Negeri.
Yang
sarat akan tragedi.
Yang
sesungguhnya kaya tak tertandingi.
Namun
meradang karena habis dieksploitasi.
Inilah
kisah tentang “Negeri para Tirani”.
Di Negeri ini, ada mahkluk bernama
selebriti.
Mereka adalah tirani yang
memperbudak moral generasi negeri
Lewat benda bernama televisi.
Ada
juga serdadu boneka bertangan besi.
Mereka
musuh nyata orang-orang berani.
Siapa
yang berani meneriakkan kebenaran di Negeri ini.
Akan
dieksekusi mati oleh serdadu tangan besi. Didalam sunyi.
Di Negeri para Tirani.
Ada juga orang-orang berdasi.
Yang sesungguhnya bedebah paling
hina dalam cerita ini.
Merekalah Tirani paling kasat
tersembunyi.
Yang memaksa para buruh dan petani.
Untuk bekerja tiada henti.
Dari pagi, hingga pagi lagi.
Di
Negeri para Tirani.
Pemuda-pemudinya
terjangkit penyakit bernama “mimikri”.
Yang
disebabkan oleh virus bernama “globalisasi”.
Dan
atas nama “westernisasi”. Mereka lupa mengenal budaya dan diri.
Ada juga seniman di Negeri para
Tirani.
Mereka pandai bermain kata retoris
lewat puisi.
Tapi lebih senang beronani dengan
seni.
Ada juga Ilmuwan di Negeri para
Tirani
Yang sibuk berdiskusi tentang sains
dan teknologi.
Tapi tak peduli mau jadi apa Negeri
ini.
Ya
sudah, biarkan saja Negeri para Tirani.
Toh,
Negeri itu sudah seperti “Mati”.
terinpirasi dari “sajak untuk
orang-orang berani” karya Anhar Dana Putra.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar