Pages

Senin, 13 Januari 2014

Negeri yang Terbiasa



29 September 2013 pukul 19:31
Selamat datang di Negeri yang terbiasa.
Negeri ini kaya, namun rakyatnya terbiasa hidup merana.
Inilah negeri yang terbiasa.
Negeri yang dipimpin oleh penindas yang punya kuasa.
Tapi rakyatnya tak berani melawan, karena terbiasa tersiksa.
Lagi-lagi Negeri ini telah terbiasa.
Terbiasa mengabaikan budaya bangsa,
Tapi marah saat budayanya di akui milik tetangga.
Para wanita di Negeri yang terbiasa.
Senang dengan pria yang berdandan dan berdansa.
Di Negeri yang terbiasa.
Para wakil rakyatnya terbiasa senang bersenggama.
Bersenggama dengan harta dan wanita, lalu lupa pada janjinya.
Di Negeri yang terbiasa.
Ibu pertiwi sedih dan terluka.
Tapi anak bangsa sibuk tertawa, saat terjajah lewat budaya.
Mungkin bagi rakyat Negeri yang terbiasa.
Luka dan tangis pertiwi adalah biasa.
Di Negeri yang terbiasa.
Ada kaum bernama mahasiswa. yang katanya pemuda harapan bangsa.
Tapi apa ? mereka hanya sibuk mengejar nilai A.
Di kampus dan di rumah yang mereka tahu hanya membaca.
Dan terbiasa lupa bahwa di luar sana.
Banyak saudara sebangsa.
yang tebiasa hidup merana, tersiksa.
Apakah memang begini, seharusnya nasib sebuah Negeri yang kaya?
Penuh luka, penuh lupa, hanya karena terbiasa.
Ah, biarkan saja.
Toh, mereka para pemiliknya juga sudah terbiasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar