29 September 2013 pukul 19:31
Selamat
datang di Negeri yang terbiasa.
Negeri
ini kaya, namun rakyatnya terbiasa hidup merana.
Inilah negeri yang terbiasa.
Negeri yang dipimpin oleh penindas yang punya
kuasa.
Tapi rakyatnya tak berani melawan, karena terbiasa
tersiksa.
Lagi-lagi
Negeri ini telah terbiasa.
Terbiasa
mengabaikan budaya bangsa,
Tapi
marah saat budayanya di akui milik tetangga.
Para wanita di Negeri yang terbiasa.
Senang dengan pria yang berdandan dan berdansa.
Di Negeri
yang terbiasa.
Para
wakil rakyatnya terbiasa senang bersenggama.
Bersenggama
dengan harta dan wanita, lalu lupa pada janjinya.
Di Negeri yang terbiasa.
Ibu pertiwi sedih dan terluka.
Tapi anak bangsa sibuk tertawa, saat terjajah lewat
budaya.
Mungkin bagi
rakyat Negeri yang terbiasa.
Luka dan
tangis pertiwi adalah biasa.
Di Negeri
yang terbiasa.
Ada kaum bernama mahasiswa. yang katanya pemuda
harapan bangsa.
Tapi apa ? mereka hanya sibuk mengejar nilai
A.
Di kampus dan di rumah yang mereka tahu hanya membaca.
Dan terbiasa lupa bahwa di luar sana.
Banyak saudara sebangsa.
yang tebiasa hidup merana, tersiksa.
Apakah
memang begini, seharusnya nasib sebuah Negeri yang kaya?
Penuh
luka, penuh lupa, hanya karena terbiasa.
Ah,
biarkan saja.
Toh,
mereka para pemiliknya juga sudah terbiasa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar