Republik Hewan Menggugat Koruptor
Suatu
hari di Negara Kesatuan Republik Hewan (NKRH), terjadi debat panjang yang
melibatkan berbagai spesies hewan di Kantor Dewan Perwakilan Rakyat Hewan (DPRH).
Kabarnya mereka ingin menggugat manusia karena dianggap melecehkan para
binatang konon nama para hewan sering digunakan untuk melempar umpatan,
utamanya untuk mengumpat beberapa spesies baru manusia yang digolongkan
rendahan. Di antara semua spesies manusia, yang paling banyak diperdebatkan
para hewan adalah spesies baru yang manusia sebut “Koruptor” berdasarkan
informasi yang didapatkan dari Badan Intelijen Hewan (BIH) yang bertugas di
Negara Indonesia, Koruptor yang gemar mencuri hak milik manusia lain dan senang
ingkar sumpah jabatan ini sering diumpati sebagai anjing, kera, tikus, dan
banyak hewan mamalia lainnya.
Mendengar nama kaumnya disebut, Pak Buldog
dari fraksi Partai Anjing Sejahtera (PAS) yang mewakili kaum anjing angkat
bicara “Saya dan kaum saya sangat-sangat tersinggung karena disamakan dengan Koruptor
yang katanya gemar mencuri dari rakyat kecil, dalam salah satu Agama manusia
kami memang di anggap sebagai najis, tapi kami tak mencuri dari mahkluk lain,
kami kaum anjing juga memegung teguh janji meski tak pernah di sumpah jabatan,
jika ada dari kita yang pantas disamakan dengan Koruptor dia adalah tikus,
diantara kita para hewan hanya tikuslah yang paling gemar mencuri makanan dari
manusia”.
Bu Mencit, wakil dari fraksi Partai
Tikus Berdasi (PTB) yang membawa aspirasi kaum tikus juga angkat bicara “Wah,
Pak Buldog jangan rasis dong pak ! Meski kami kaum tikus senang mengambil yang
bukan milik kami, tapi kami tidak mencuri kok pak, kami Cuma memungut milik
manusia yang mereka abaikan. Itu kan bukan mencuri Pak Buldog, karena kami
hanya mengambil milik mahkluk lain yang tak dibutuhkan lagi, daripada Mubadzir
kan pak, lebih baik saya yang gunakan, kayak Budaya Tari tor-tor dan pendet
punya Indonesia yang dulu diklaim Malaysia loh pak. Dulu sebelum tari tor-tor
dan pendet Indonesia diambil sama Malaysia mana ada orang Indonesia yang mau
belajar apalagi sampai mau tahu tentang tari tor-tor sama pendet”.
Melihat debat sengit yang terjadi
antara dua kubu partai hewan yang tersinggung karena nama kaumnya sering
dijadikan umpatan bagi para koruptor, Hanuman dari Partai Golongan Kera
(GOLKER) yang kala itu jadi pemimpin sidang memukul-mukul palu sidang dengan
irama yang tak jelas seperti lagu Boy Band dari Negara Indonesia yang tak jual
suara tapi jual tampang. Tujuannya supaya forum para hewan itu bisa jadi lebih
kondusif.
Setelah forum para hewan itu mulai
tenang, bicaralah Pak Bambang yang bijaksana dari Partai Babi Bersatu (PBB)
“Kawan-kawan sekalian, sebangsa, setanah dan , sehutan, tak usahlah kita
perdebatkan persoalan siapa yang paling mirip koruptor di antara kita. Toh,
koruptor sifatnya gak buruk-buruk amat, Koruptor itu mahkluk ciptaan Tuhan yang
paling sabar, mereka diumpat sekasar apapun, dihina bagaimanapun, mereka akan
tetap melanjutkan pekerjaannya dengan tenang. Koruptor juga mahkluk professional
yang paling konsisten dan mencintai pekerjaannya, lihat saja meski
berkali-berkali dipenjara asal masih hidup para koruptor tetap konsisten sampai
mati untuk mencuri uang dari rakyat kecil. Koruptor juga adalah mahkluk yang
dimuliakan, mereka mewakili hajat hidup orang banyak, banyak dari Koruptor yang
mengemban amanah sebagai wakil rakyat, mereka mewakili rakyat yang kelaparan
untuk makan, mewakili rakyat yang butuh hiburan untuk mencerdaskan dengan
plesiran ke berbagai Negara, jadi kenapa kita harus malu disamakan dengan
koruptor ? Hidup Koruptor !.
Tak lama setelah pidato singkat dari
pak Bambang, suasana dalam ruang sidang para hewan menjadi hening. Rupanya ada
dari anggota dari DPRH yang ketiduran pas sidang, ada juga keasyikan akses situs
porno sambil onani di bawah kursi parlemen.
Malam harinya, rakyat Republik Hewan
sudah kembali lupa soal perdebatan di persidangan tadi siang. Mereka asyik
dengan tontonan baru yang diekspor lansung dari Negara Indonesia, tontonan yang
tiga jam pengisi acaranya akan terus berjoget, atau saling mengumpat satu sama lain.
Saat ditanya apa mereka senang dengan tontonan itu, rakyat Republik Hewan
menjawab “Tidak !” lah, terus kenapa ditonton “Yah, malam hari kan tontonan
yang ada Cuma ini”. Tiba-tiba turunlah hujan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar