Pages

Senin, 10 Februari 2014

Mungkin Ini “Tangis yang Kuingin”




            Mungkin tak banyak dari kita yang senang menampakkan wajah, saat air mata pelan menetes mengairi pipi. Beberapa diantara kita (lelaki utamanya) kurang senang karena menganggap tangisan sebagai batas maskulinitas “mungkin benar” tapi sebagai manusia “sepertinya salah” tangis tentu manusiawi, apalagi bagi yang punya nurani.

            Tulisan ini lahir tentu bukan sebagai pembenaran untuk menjadi cengeng, bukan juga perintah untuk semua yang membaca tulisan ini agar kelak mau menangisi segalanya.  Menangisi segalanya jelas tak perlu, tapi kadang menangis itu perlu. Saya kenal seseorang yang beberapa tahun lalu benci menampakkan wajah jika dia sedang menangis, namun setelah bertemu lagi beberapa tahun kemudian saya mendapati dia berlinang air mata dihadapan seluruh trainee-nya sambil mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil menyentuh beberapa nurani yang mati dan hadir dalam ruangan saat itu (termasuk saya) “Siapapun kau, jika kusentuh nuranimu dengan kisah tentang orang tua, maka pasti tak kuasa menahan tangis, dulu saya pernah benci menangis, sekarang saya malah bertanya, manusia macam apa yang hatinya tak tersentuh jika berbicara tentang orang tua” kalimat itu sejujurnya agak samar dalam ingatan, jadi saya rubah sedikit, sekaligus agar terasa lebih estetis.

            Menangis tentang orang tua, mungkin satu yang paling umum dari sekian alasan khusus sehingga kita menangis, ada beragam alasan yang masing-masing dari kita inginkan untuk menangis. Sebenarnya sederhana pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan saya kali ini “tentang perlunya alasan, untuk sebuah tangisan” mungkin ada diantara kita yang memilih menangis untuk orang terdekat yang meninggalkan kita, ada juga yang sibuk menangisi kegagalan dalam pencapaian prestasi (ini biasanya berlaku bagi mereka yang ambisius) dan untuk beberapa alasan saya menganggap ini sebagai alasan yang egois. 

            Dari sekian alasan untuk menangis, meski semua terasa manusiawi, ada alasan yang hebat. Serupa dengan hidup “selalu ada yang berbeda” dan untuk beberapa alasan saya menganggap, bahwa berbeda itu adalah sesuatu yang hebat. Salah satu alasan yang saya pikir hebat misalnya, seseorang yang menangis melihat sesama mahkluk hidup yang kelaparan “itu hebat” karena disekiling kita orang-orang semakin banyak yang memilih menanggalkan kemanusiaannya, lebih memilih mendengkur kekenyanyangan daripada memperdulikan mereka yang kelaparan. Hebat kan ?. Dalam tulisan ini, sama sekali tidak ada paksaan untuk menentukan pilihan, karena saya pikir kebebasan menentukan pilihanlah yang membuat kita menjadi manusia merdeka. Namun, hanya mengingatkan “kadang apa yang kita pilih, adalah alasan nurani kita merintih” hidup itu sederhana “jangan bebani dirimu dengan pertimbangan, karena itulah yang menjauhkan kita dari kebahagiaan” .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar