Mungkin tak banyak dari kita yang
senang menampakkan wajah, saat air mata pelan menetes mengairi pipi. Beberapa
diantara kita (lelaki utamanya) kurang senang karena menganggap tangisan
sebagai batas maskulinitas “mungkin benar” tapi sebagai manusia “sepertinya
salah” tangis tentu manusiawi, apalagi bagi yang punya nurani.
Tulisan ini lahir tentu bukan
sebagai pembenaran untuk menjadi cengeng, bukan juga perintah untuk semua yang
membaca tulisan ini agar kelak mau menangisi segalanya. Menangisi segalanya jelas tak perlu, tapi
kadang menangis itu perlu. Saya kenal seseorang yang beberapa tahun lalu benci
menampakkan wajah jika dia sedang menangis, namun setelah bertemu lagi beberapa
tahun kemudian saya mendapati dia berlinang air mata dihadapan seluruh trainee-nya sambil mengucapkan sebuah
kalimat yang berhasil menyentuh beberapa nurani yang mati dan hadir dalam
ruangan saat itu (termasuk saya) “Siapapun kau, jika kusentuh nuranimu dengan
kisah tentang orang tua, maka pasti tak kuasa menahan tangis, dulu saya pernah
benci menangis, sekarang saya malah bertanya, manusia macam apa yang hatinya
tak tersentuh jika berbicara tentang orang tua” kalimat itu sejujurnya agak
samar dalam ingatan, jadi saya rubah sedikit, sekaligus agar terasa lebih
estetis.
Menangis tentang orang tua, mungkin
satu yang paling umum dari sekian alasan khusus sehingga kita menangis, ada
beragam alasan yang masing-masing dari kita inginkan untuk menangis. Sebenarnya
sederhana pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan saya kali ini “tentang
perlunya alasan, untuk sebuah tangisan” mungkin ada diantara kita yang memilih
menangis untuk orang terdekat yang meninggalkan kita, ada juga yang sibuk
menangisi kegagalan dalam pencapaian prestasi (ini biasanya berlaku bagi mereka
yang ambisius) dan untuk beberapa alasan saya menganggap ini sebagai alasan
yang egois.
Dari sekian alasan untuk menangis,
meski semua terasa manusiawi, ada alasan yang hebat. Serupa dengan hidup
“selalu ada yang berbeda” dan untuk beberapa alasan saya menganggap, bahwa
berbeda itu adalah sesuatu yang hebat. Salah satu alasan yang saya pikir hebat
misalnya, seseorang yang menangis melihat sesama mahkluk hidup yang kelaparan
“itu hebat” karena disekiling kita orang-orang semakin banyak yang memilih
menanggalkan kemanusiaannya, lebih memilih mendengkur kekenyanyangan daripada
memperdulikan mereka yang kelaparan. Hebat kan ?. Dalam tulisan ini, sama
sekali tidak ada paksaan untuk menentukan pilihan, karena saya pikir kebebasan
menentukan pilihanlah yang membuat kita menjadi manusia merdeka. Namun, hanya
mengingatkan “kadang apa yang kita pilih, adalah alasan nurani kita merintih”
hidup itu sederhana “jangan bebani dirimu dengan pertimbangan, karena itulah
yang menjauhkan kita dari kebahagiaan” .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar