Pernah, pada subuh suatu ketika
Dalam gelap di sebuah pembaringan
Dengan kepala dan mata yang sejak petang masih
terjaga
Kata beterbangan membentuk peristiwa
Lalu mulai
kutulis puisi
Tentang orang
kiri
Yang rindu
revolusi
Dan pelan kalimatku
berhenti pada titik
Setelah habis kutuang diksi-diksi
Kurangkai menjadi kalimat dalam satu puisi
Kumulai lagi kontemplasi dini hari
Senyap yang
ribut membisiki kepala
Mengocehlah
peristiwa tentang makna-makna
Gelaplah mata,
lalu buta
Tak lama setelah pagi mati
Diganti oleh malam yang hujan
Terbangunlah dia yang lelap sejak subuh
Lalu bercerita tentang perangai penguasa di alam
fana
Yang sebenarnya tak jauh berbeda
Dengan perangai penguasa di alam realita
Tidak ada komentar:
Posting Komentar