B U M I: Ode Buat Munir : Pesan Kematian Seorang Suami

Ode Buat Munir : Pesan Kematian Seorang Suami



1
Edelweis pasti layu bila kau jauhkan dari puncak pegunungan. Aku tak berbeda, bakal tak berdaya bila jauh dari seorang perempuan.
2
Aku bukan malaikat yang diciptakan tanpa perasaan. Bukan pula setan yang lihai menjerumuskan. Aku tak lebih dari manusia, yang berdasar ketentuan Tuhan pasti bakal terjerumus perasaan, tak terhindarkan.
3
Jangan kau tanya soal kebenaran cinta sebab aku tak pernah belajar. Jangan pula soal penciptaan sebab akupun masih buta. Tanyakan saja “apa aku bisa, jauh darimu barang semenit saja”. Pasti kujawab “bisa” sebab kita manusia yang dalam ketentuan kitab tak bisa selalu bersama.
4
Sebut aku sarkastis semaumu, atau skeptis sesuka hatimu. Lakukan hal yang tak bakal membuatmu buta mencintaiku. Aku benci bila nanti kau jadi yang paling setia menangis di atas nisanku. Cintailah aku sewajar manusia mencintai sayangku. Aku benci melihatmu terpenjara dalam luka karena bayang kematianku.
5
Maaf bila yang kutinggalkan untukmu nanti bukan warisan selayaknya suami. Maaf pula soal kehidupan yang tak pernah layak kau jalani sebagai seorang istri. Maafkan atas kemiskinanku yang tak bisa meninggalkanmu apapun selain kehilangan. Semua salahku sebab selalu bersikap selayaknya pahlawan. Aku benar-benar lupa “kita hidup di sekitar para bajingan”.
6
Sayangku, mengertilah soal kematianku. Jangan melulu kau tangisi hingga genap ratusan minggu. Ini semua buat anak-anakku. Supaya mereka bangga punya ayah seperti aku. Juga tumbuh dewasa dan menjadi bijak tanpa nasehatku, cukup dengan mendengar kisahku.

Makassar 2014. Menunggu jam 10.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © B U M I Urang-kurai