Pages

Sabtu, 31 Januari 2015

Bunuh Rindumu ! Sebelum Terbunuh Lebih Dulu

1
Buku catatanku hampir penuh
Seperti jalanan yang semut
Oleh kerumunan demonstrasi.
Disana ada mahasiswa dan polisi.
Tapi catatanku tak penuh karena orasi
Hanya namamu dan puisi

2
Seharusnya kubunuh saja sejak pertama kali
Sejak tahu rindu berbahaya
Seperti penderita gangguan jiwa
Yang membunuh agar bahagia,
Menyiksa buat senang-senang saja.

3
Kadang rindu punya banyak jelmaan
Sekali waktu, jadi mahasiswa yang tutup jalan
Berteriak dengan pengeras suara
meski tahu sia-sia saja.
Yang dirindukan tak punya telinga
Seperti wakil rakyat ditegur mahasiswa
(Hanya buang-buang tenaga).

Barangkali mahasiswa sedang lupa
Di pekarangan rumah orang yang dirindukan
Ada tembok tebal kedap suara

4
Berhatilah-hatilah pada rindu,
Jika tanpa alamat.
Kalau tersesat,
Kau berdiam di sana hingga sekarat.

5
Bunuh rindumu,
Sebelum terlambat waktu.
Sebelum ia membunuhmu,

Lebih dulu.


Makassar akhir bulan, di sebuah warung kopi.

Selasa, 27 Januari 2015

Meludahi Wajahnya Tiap Kata

Puisi ini ditulis sebagai hadiah perpisahan untuk dekan fakultasku yang lama, dari mahasiswa-mahasiswa yang berterima kasih atas perhatian TULUSnya.

1/ Adalah aku yang selalu kau sebut sampah, tapi tak masalah. Sebab sampah tak salah jika ia berguna, asal ia berkarya.

2/ Sementara ada yang berlagak emas padahal tak pernah melebihi tembaga. Seperti pelaut kampung berlagak ulung, padahal kapalnya tak kemana-mana. Atau seperti fakultas yang akreditasinya tak berubah jaya, padahal pimpinannya telah khatam keliling Eropa.

3/ Lalu ada yang berupaya mencari sembelihan buat ditumbalkan, agar ia tak disalahkan. Dipersoalkanlah tanah yang kutempati membangun gubuk dan taman, tanah yang kemarin ia biarkan jadi tempat buang kotoran “aku tahu isi kepalamu menjijikkan, tapi tak usahlah kau tularkan” kamu iri, iya kan ?.

4/ Lebih baik aku berteman dengan pemabuk, daripada berteman dengan penipu. Pemabuk mengajarkanku jadi orang jujur, penipu senang berjanji tapi ingkar (seperti akreditasi) juga mengajarkanku tak jujur sebagai diriku.

5/ Kemudian aku berpikir mengganti nama menjadi serupa dengan ia, yang menyangka namanya paling maha. Sayangnya ia telah tiada sebagai tuan, selamat jalan.

*Penulis enggan dibilang sok jagoan, juga terlalu penakut untuk standar seorang pahlawan. Tapi penulis masih tahu caranya melawan, bukan mencari lawan (hanya tak elok saja mendiamkan serangan).

Parangloe, 24 Januari 2015

Sabtu, 03 Januari 2015

Mungkin Masalah Hati (1)



Aku ingin punya tempat sampah yang bisa bicara.
Seperti mulut calon pejabat yang senang mengumbar kata.
Tapi cukup jadi puisi saja.
Aku bisa kehilangan nyawa bila sungguh melakukannya.

Aku mengagumi bulan yang begitu setia mencintai pagi,
Meski tahu pagi telah menambatkan hati pada matahari.
Tapi hati adalah teka-teki paling misteri,
tak akan kau pahami jika tak kau selami.
Jadi jangan heran bila suatu hari :
Konglomerat, ningrat, dan pejabat tiba-tiba jadi merakyat,
Barangkali akan ada pemilihan umum esok pagi.

            Sabtu malam, mengawali tahun beberapa hari.