Pages

Selasa, 27 Januari 2015

Meludahi Wajahnya Tiap Kata

Puisi ini ditulis sebagai hadiah perpisahan untuk dekan fakultasku yang lama, dari mahasiswa-mahasiswa yang berterima kasih atas perhatian TULUSnya.

1/ Adalah aku yang selalu kau sebut sampah, tapi tak masalah. Sebab sampah tak salah jika ia berguna, asal ia berkarya.

2/ Sementara ada yang berlagak emas padahal tak pernah melebihi tembaga. Seperti pelaut kampung berlagak ulung, padahal kapalnya tak kemana-mana. Atau seperti fakultas yang akreditasinya tak berubah jaya, padahal pimpinannya telah khatam keliling Eropa.

3/ Lalu ada yang berupaya mencari sembelihan buat ditumbalkan, agar ia tak disalahkan. Dipersoalkanlah tanah yang kutempati membangun gubuk dan taman, tanah yang kemarin ia biarkan jadi tempat buang kotoran “aku tahu isi kepalamu menjijikkan, tapi tak usahlah kau tularkan” kamu iri, iya kan ?.

4/ Lebih baik aku berteman dengan pemabuk, daripada berteman dengan penipu. Pemabuk mengajarkanku jadi orang jujur, penipu senang berjanji tapi ingkar (seperti akreditasi) juga mengajarkanku tak jujur sebagai diriku.

5/ Kemudian aku berpikir mengganti nama menjadi serupa dengan ia, yang menyangka namanya paling maha. Sayangnya ia telah tiada sebagai tuan, selamat jalan.

*Penulis enggan dibilang sok jagoan, juga terlalu penakut untuk standar seorang pahlawan. Tapi penulis masih tahu caranya melawan, bukan mencari lawan (hanya tak elok saja mendiamkan serangan).

Parangloe, 24 Januari 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar