Puisi
ini ditulis sebagai hadiah perpisahan untuk dekan fakultasku yang lama, dari
mahasiswa-mahasiswa yang berterima kasih atas perhatian TULUSnya.
1/
Adalah aku yang selalu kau sebut sampah, tapi tak masalah. Sebab sampah tak
salah jika ia berguna, asal ia berkarya.
2/
Sementara ada yang berlagak emas padahal tak pernah melebihi tembaga. Seperti
pelaut kampung berlagak ulung, padahal kapalnya tak kemana-mana. Atau seperti
fakultas yang akreditasinya tak berubah jaya, padahal pimpinannya telah khatam
keliling Eropa.
3/
Lalu ada yang berupaya mencari sembelihan buat ditumbalkan, agar ia tak
disalahkan. Dipersoalkanlah tanah yang kutempati membangun gubuk dan taman,
tanah yang kemarin ia biarkan jadi tempat buang kotoran “aku tahu isi kepalamu
menjijikkan, tapi tak usahlah kau tularkan” kamu iri, iya kan ?.
4/
Lebih baik aku berteman dengan pemabuk, daripada berteman dengan penipu.
Pemabuk mengajarkanku jadi orang jujur, penipu senang berjanji tapi ingkar
(seperti akreditasi) juga mengajarkanku tak jujur sebagai diriku.
5/
Kemudian aku berpikir mengganti nama menjadi serupa dengan ia, yang menyangka
namanya paling maha. Sayangnya ia telah tiada sebagai tuan, selamat jalan.
*Penulis
enggan dibilang sok jagoan, juga terlalu penakut untuk standar seorang
pahlawan. Tapi penulis masih tahu caranya melawan, bukan mencari lawan (hanya
tak elok saja mendiamkan serangan).
Parangloe, 24
Januari 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar