Pages

Selasa, 11 Februari 2014

“Cinta” Begini Saja !




Kucari-cari makna cinta
Jauh kucari dalam kepala
Sampai lelah kucari makna
Hingga habis rotasi dunia
Begini saja, bagaimana ?
Kita coba mencari makna
Dalam lautan kata-kata
Barangkali saja di sana
Kita temui makna cinta
Jika dicari dia tak ada
Mungkin cinta
Telah karam lama
Jauh sebelum bermula segala kisah
Atau mungkin, dia bermuara
Pada akhir kisah yang salah ?
Atau, seperti ini saja ?
Kita simpulkan saja dengan sederhana
Cinta itu tak pernah bermakna
Jika kau cari dalam kepala
Atau dalam lautan kata
Cinta bukan mula
Bukan pula muara
Cinta mungkin kisah
Tanpa mula, tanpa muara
Yang terus melahirkan kisah
Tak peduli lelahnya dunia
Berotasi hingga habis masa
Mungkin, seperti itulah cinta

Senin, 10 Februari 2014

DIBALIK KERAMAHAN SENYUM RONALD Mc DONALDS DALAM SEBUAH KISAH



Waktu menulis ini, saya langsung kepikiran dan teringat masa-masa dulu, dimana saat saya masih sekolah dulu, saya dan teman-teman sering kali menghabiskan waktu di tempat nongkrong paling nyaman, paling asik, paling gaul dan paling bergengsi se-dunia... McDONALD'S. Siapa sih yang gak kenal 'nama' ini?

Kebetulan waktu itu di kota saya, restoran fast food paling ngetop sedunia ini terbilang masih baru dibuka, jadi pasti banyak remaja kayak saya yang menghabiskan waktu disana. Tempat ini benar-benar mengasyikkan sampai kita begitu betah menghabiskan waktu yang tak terasa lewat begitu saja, kita bisa makan-makanan enak sambil dengerin musik, lihat anak-anak kecil bermain, lihat cewek-cewek, pokoknya asik plus nyaman banget lah...

Tapi sebenarnya jika kita duduk didalamnya, terutama di dekat jendela kacanya, kita bisa melihat keluar menatap 'manisnya' realita kehidupan sebenarnya: anak-anak jalanan yang menggantungkan hidupnya di perempatan, ibu-ibu tua pengemis yang duduk sambil menggendong bayi mereka mengharap belas kasihan dari pengunjung-pengunjung McDonalds, abang-abang pengayuh becak yang sepanjang hari sabar menunggu penumpang dan pedagang kaki lima yang berjejer-jejer di pinggir jalan...
Sampai suatu ketika saya pernah membaca tulisan tentang McDonald's ini...

Oke, saya ceritakan apa yang pernah dikatakan salah seorang eks-pekerja McD tentang bagaimana McD mendapatkan ayam-ayamnya.

Dia mengatakan kondisi peternakan McD sangat buruk, bahkan itu lebih mirip tempat penyiksaan ketimbang tempat peternakan. Ayam-ayam diletakkan di kandang yang sama sekali tidak layak disebut kandang. Sempit dan tak punya akses cahaya matahari. Tempat yang seperti itu menyebabkan ayam-ayam tersebut tidak dapat bergerak, bahkan untuk sekedar berdiri. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang patah tulang atau terluka, bahkan tidak sedikit juga yang mati. Sudah sejak kecil ayam-ayam itu disuntik obat anti-biotik dan obat-obatan yang akan membuat mereka cepat tumbuh besar. 44% ayam-ayam tersebut mengalami gangguan kesehatan akibat obat-obatan tersebut dan pengaruh kandangnya. Ayam-ayam yang mengalami hal ini akan dipisahkan dari ayam-ayam lainnya untuk dibantai secara kejam dengan gas beracun. Ayam-ayam yang terpilih, yang tidak cacat dan telah berumur 6-7 minggu kemudian dikirim ke tempat penjagalan. Sebaiknya jangan pernah membayangkan ayam-ayam tersebut dibunuh dengan baik-baik. Di tempat jagal, ayam-ayam itu digantung terbalik dengan kaki di atas dan kepala di bawah. Kemudian ayam-ayam tersebut dicelupkan ke dalam air yang dialiri listrik. Banyak di antara ayam-ayam tersebut yang tidak mati namun begitu menderita akibat sengatan listrik. Barulah setelah itu ayam-ayam tersebut dipotong. Tapi itu bukan pemotongan yang sempurna, melainkan sembarang saja. Satu persen dari ayam-ayam tersebut masih tetap hidup setelah dipotong untuk kemudian dimasukkan ke dalam tangki daging. Ayam-ayam yang masih hidup tersebut memang akan mati, tapi itu adalah kematian yang perlahan dan sungguh menyiksa! Benar-benar horor yang menakutkan bukan...

Dalam proses produksi itu, McD benar-benar telah melakukan eksploitasi tanpa batas terhadap Sumber Daya Alam yang kita miliki. Mungkin sebagian orang beranggapan... "Terus emangnya kenapa, itu kan cuma ayam !?" Memang itu cuma ayam, cuma seekor hewan yang biasa dijadikan sumber makanan bagi manusia, tapi apakah ayam tidak memiliki rasa sakit seperti manusia? Apakah ayam tidak merasa tersiksa karena ekspolitasi yang diperlakukan kepada mereka? Apakah mereka tidak berhak untuk hidup bebas dan berkeliaran? Ayam-ayam itu telah menderita untuk kita, dan apakah McD peduli dengan hal ini? Tentu saja tidak, korporasi mempunyai sifat dasar untuk tidak peduli kepada apapun kecuali kepada PROFIT/KEUNTUNGAN ! Jadi, ayam-ayam itu telah menderita demi keuntungan yang direguk oleh korporat internasional!

Oh jadi seperti itu ya... Ronald McDonalds, badut McD yang kelihatan lucu, ramah dan selalu tersenyum itu ternyata tidak selucu dan tidak seramah yang saya sangka.

Sampai sini, saya memutuskan untuk tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Sebuah pilihan dasar yang kamu semua juga punya, seperti kata Arundhati Roy, penulis dan aktivis India: untuk merubuhkan sistem kapitalisme global dan korporat-korporatnya yang merugikan, kamu hanya perlu menggunakan hak pilih kamu yang paling dasar, yaituMEMILIH UNTUK TIDAK MEMBELI LAGI PRODUK-PRODUK KORPORASI INTERNASIONAL !)

Saya juga pernah membaca...

Pada tanggal 31 Maret 1998, digelar pengadilan untuk kasus tuntutan NUS (National United Student – organisasi pelajar di Inggris) kepada McD. Tuntutan NUS yaitu, McDonald's adalah praktek anti-perserikatan pekerja, pengeksploitasian pekerja yang berhubungan dengan pengrusakan lingkungan, kekejaman pada hewan dan promosi produksi-produksi makanan yang tidak sehat. Dan di akhir persidangan, majelis hakim memenangkan tuntutan NUS dan menyatakan bahwa McD bersalah dengan fakta-fakta berikut:

(1) McD mengeksploitasi anak-anak dalam iklan-iklannya
(2) McD bersalah atas kekejamannya terhadap hewan-hewan
(3) Perusahaan tersebut anti-perserikatan pekerja dan membayar pekerjanya di bawah standar
(4) McD bersalah atas penghancuran hutan hujan di negara-negara dunia ketiga
(5) Penyia-nyiaan, polusi, dan sampah dari sisa-sisa produk McD yang tidak bisa didaur ulang
   
(rilisan London Greenpeace, 14 April 1998)

Akhirnya sampai sini, saya lebih yakin untuk memutuskan tidak lagi melangkahkan kaki ke McD ! (Makan nasi pecel masih enak koq, ya gak...). Dan siapakah yang tahu bagaimana McD memperlakukan sisa lebih stok makanan mereka setiap harinya? McD memasukkan burger-burger, daging-daging, nasi dan stok makanan lainnya ke dalam karung dan kemudian menyiramnya dengan air agar makanan-makanan tersebut tidak berbentuk lagi hingga tak dapat dimakan dan kemudian baru dibuang ke tempat sampah! Wah gila benerrr... Sementara, kita tahu ini, semua orang tahu ini dan Tuhan juga tahu ini: di luar jendela kaca McD, di jalanan-jalanan, dimana anak-anak, gelandangan, pengemis dan jutaan rakyat miskin melilit menahan lapar perutnya setiap hari ! Tapi McD lebih memilih untuk memusnahkan kelebihan stok makanannya daripada membagi-bagikan stok lebih makanannya itu kepada mereka !

Dan inilah mitos yang perlu dikembangkan terhadap McD:
- Penyebab Kanker (McCancer) : merusak kesehatan karena setiap yang dijual di McD adalah hasil dari bahan pengawet dan bukan makanan segar
- Pembunuh (McMurder) : pembantai hewan-hewan hanya untuk menambah keuntungan
- Perusak (McDestructor) : menghabiskan hutan-hutan di negara-negara dunia ketiga untuk kepentingan peternakannya demi (lagi-lagi)menambah keuntungannya tanpa mempedulikan hak rakyat dan hak adat pada tanah untuk melanjutkan hidup
- Penyia-nyiaan Bahan (McWaste) : membuat produk yang tidak bisa di daur ulang
- Rakus (McGreedy) : mengeksploitasi tenaga kerjanya dengan waktu yang represif dan upah yang rendah

SEMUANYA ITU DEMI MENAMBAH KEUNTUNGAN !
Jadi... Ini semua berarti bahwa kunjungan kita ke McD adalah pernyataan dukungan terhadap sistem yang telah merusak dan menghancurkan planet bumi ini, yang telah menghancurkan kehidupan para petani dan kaum adat di dunia ketiga, yang telah memperbudak manusia lewat jam kerja yang panjang, tidak masuk akal dengan upah yang minimum, yang telah membuat nilai rupiah jatuh sedemikian rupa di hadapan dollar dan menyebabkan lumpuhnya perekonomian negara ini.

Dan untuk terakhir kalinya...

Kita bisa memilih seperti apa yang dianjurkan Arundhati Roy, MEMILIH UNTUK TIDAK LAGI MEMBELI PRODUK-PRODUK KORPORASI YANG KEJAM !

Dan tentu saja, di era globalisasi dan konsumerisme seperti saat ini(yang bahkan hanya untuk berlebaran, natal, imlek, dan ritual-ritual keagamaan lainnya, kita merasa harus berbelanja!), McD bukanlah satu-satunya produk korporasi yang harus kita tolak !

CARI, BUAT DAFTAR, dan STOP MEMBELINYA !

Catatan dari seorang ERWIND EGALITE, diambil dari blog MANIFESTASI IMAJINASI yang judul aselinya adalah 
Mengapa Saya (sebaiknya) Tidak Makan di McDonald's
http://antifa-nusantara.blogspot.com/2012/01/waktu-menulis-ini-saya-langsung.html

V de Vendetta The Comics (Menjelaskan Anarkisme Lewat Komik)


"Kerusuhan dan keributan ini, V… Inikah anarki? ... Anarki berarti "tanpa pemimpin", bukan "tanpa peraturan". Bersama anarki datang masa ordnung, masa keteraturan sejati… dgn kata lain keteraturan secara sukarela. […] Ini bukan anarki, Eve. Ini kekacauan." (petikan percakapan V dengan Eve dari komik V for Vendetta, hlm. 195)
Anarki dan kekacauan, samakah? Ya bila kita lihat pemakaian kata "anarki" dalam bahasa sehari-hari. Tapi tidak bila kita melihatnya dari sejarah aliran pemikiran kritis.Buku Sean M. Sheehan, Anarkisme: Perjalanan Sebuah Gerakan Perlawanan (Marjin Kiri, 2007) berusaha mengupas sejarah anarkisme sebagai sebuah falsafah politik, dengan dampaknya yang meluas pada bidang kebudayaan dan kesenian.
Sebagai falsafah politik, anarkisme sering dianggap tidak serius dan diasosiasikan sebagai "kenakalan liar" belaka. Sebagian penyebabnya adalah karena anarkisme menolak konsep Negara tunggal atau tersentral, padahal "Negara berdaulat adalah sumber otoritas politik sebagaimana yang kita pahami. Sedemikian kuat konsep ini sampai sulit untuk membayangkan apa jadinya ilmu politik tanpa konsep Negara" (Anarkisme hlm. 23). Meskipun menentang Negara, anarkisme tidaklah menentang pemerin­tahan dalam arti "administrasi sistem politik". Anarkisme mendambakan pemerintahan swakelola yang dijalankan sukarela oleh warganya, bukan lewat paksaan aparatus hukum Negara yang kita kenal sekarang.
Proyek macam ini sering dibilang utopis, namun Sheehan mencontohkan komunitas-komunitas anarkis kuno maupun baru yang terbukti mampu menjalankan ideal macam ini, mulai dari komunitas Diggers di Inggris abad ke-17 sampai komunitas Zapatista di Meksiko yang melancarkan pemberontakan menjelang akhir abad ke-20. Sheehan juga merayakan kejayaan kubu Anarkis dalam memerangi pasukan Fasis dalam Perang Saudara Spanyol tahun 1930-an. Dalam perang inilah terbukti bahwa prinsip-prinsip anarkis mungkin diterapkan dalam penataan kehidupan politik modern. Revolusi anarkis ini terbukti berdampak positif pada kinerja perekonomian. Produksi pertanian Spanyol meningkat antara 1936 dan 1937 (hlm. 102). Sheehan menggugat, meski bukti-bukti ini berlimpah, "namun anehnya tidak dianggap sebagai argumen bahwa anarkisme itu mungkin diterapkan pada abad ke-21." (hlm. 49).
Dianaktirikan dalam lingkup ilmu sosial-politik, anarkisme justru memberi banyak pengaruh dalam kebudayaan dan kesenian. Musik punk misalnya, adalah anak kandung anarkisme. Sheehan memaparkan banyak contoh karya-karya sastra dan film yang mengangkat tema atau prinsip anarkisme dengan stereotipnya masing-masing. Sungguh kebetulan bahwa dalam waktu yang tak beda jauh terbit pula komik V for Vendetta (Gramedia, 2006) yang juga bisa dipakai sebagai contoh bagaimana anarkisme ditampilkan dalam budaya pop. Publik Indonesia mungkin lebih dahulu mengenal V for Vendetta di layar lebar.
Alkisah dalam komik ini, Inggris tahun 1997 dikuasai oleh kediktatoran fasis Takdir yang dipijakkan pada konspirasi militer, birokrat, dan rohaniawan, dengan dipadu oleh kemahakuasaan teknologi. Kebudayaan, kesenian, dan pemikiran pada umumnya diberangus. Rakyat hanya boleh mendengarkan siaran radio yang mengudarakan Suara Takdir. Kamera televisi siaran terbatas (CCTV) dipasang di tiap sudut jalan mengawasi gerak gerik masyarakat. Intel bertebaran di mana-mana. Kebebasan nol. Dalam kata-kata Sang Pemimpin: "Aku percaya pada persatuan. Dan jika kekuatan itu, kesamaan tujuan itu menuntut keseragaman pikiran, kata, dan perbuatan, itulah yang harus diterapkan." (Vendetta, hlm. 37).
Di tengah situasi represif inilah muncul tokoh V yang melancarkan serangkaian perlawanan dengan teknik-teknik anarkis. V adalah tokoh eksentrik yang memakai jubah dan topeng teater yang selalu tersenyum. Dulu ia pernah dijadikan kelinci percobaan medis di kamp konsentrasi, namun tak ada penjelasan bagaimana setelah lolos ia bisa merintis proyek perlawanannya. Yang jelas, di rumahnya berjajar karya-karya sastra, musik, dan film yang telah diberangus dari kehidupan publik. Dari sinilah ia menimba ilmu dan inspirasi tentang kebebasan.
V disebut anarkis karena dalam perlawanannya ia tidak berusaha menggulingkan rezim Takdir lalu menggantinya dengan "pemerintahannya" sendiri. Ia berusaha menyadarkan masyarakat bahwa ada kehidupan lain di luar hidup yang mereka alami sekarang ini. V cuma membuka jalan, hanya pemberontakan bersamalah yang bisa mengubah kehidupan. Hal pertama yang dilakukannya adalah meledakkan Gedung Parlemen. Rezim berusaha berdalih bahwa ini adalah "penghancuran disengaja untuk menghindari kemacetan." Kekuasaan yang hendak berlaku total dalam prakteknya justru mudah digoyang oleh hal-hal kecil, karena itulah V lalu menculik Komandan Lewis Prothero yang setiap harinya menjadi pengisi Suara Takdir di radio. Karena tak berhasil menemukan penggantinya, rezim pun siaran seadanya, dan "seluruh negara mendengarkan. Ada yang salah dengan Suara Takdir. Hal seremeh itu telah menebarkan bayangan gelap […] Segalanya tak lagi sama." (hlm. 36). Totalitas Negara mulai rontok.
Komik V for Vendetta adalah novel grafis serius yang sungguh memukau dalam cerita maupun visualnya. Sayang sekali penggarapan edisi Indonesia ini tidak sepadan dengan kualitas komik ini aslinya. Banyaknya salah penggal kata menunjukkan rendahnya kualitas proofreading, sementara penerjemahan beberapa kutipan yang merujuk pada karya-karya sastra "tinggi" tidak dilandasi pengetahuan memadai tentang kutipan tersebut, sehingga membuat tokoh V jadi kelihatan seperti tukang ngelantur yang tidak jelas apa yang dibicarakannya. Lihat kutipan puisi W.B. Yeats ini di hal. 196: "Berputar-putar di pusaran yang membesar, burung falcon tak dapat mendengar tuannya, segalanya hancur… inti tak dapat bertahan." Andai penerjemah mau sedikit teliti melacak puisi tersebut, tentu akan tahu bahwa puisi "The Second Coming" ini dipakai sebagai epigram pembuka mahakarya Chinua Achebe Things Fall Apart, yang telah diterjemahkan dengan sangat baik menjadi Segalanya Beran­takan (Sinar Harapan, 1986): "Berputar-putar dalam putaran melebar/ elang pun tiada mendengar sang pemburu/ segalanya berantakan; pusat tak dapat bertahan/ hanya anarki kini melanda dunia."
Achebe memakai puisi Yeats sebagai alegori runtuhnya kolonialisme di Afrika, dan Moore mengutipnya di Vendetta sebagai alegori runtuhnya pusat kekuasaan fasisme Takdir--sesuatu yang tak tertangkap dalam terjemahannya di komik ini. Hal sama juga berlaku untuk kutipan soneta-soneta Shakespeare, yang tentunya akan jadi lebih baik bila penerjemah mau menengok terlebih dahulu hasil terjemahan Trisno Sumardjo.
Meski kedua buku ini menyegarkan, sebenarnya ini bukan pertama kalinya buku-buku anarkisme diterjemahkan ke bahasa Indonesia. Setahu saya, dulu pernah beredar secara bawah tanah terjemahan karya tokoh-tokoh anarkis macam Rudolf Rocker dan Emma Goldman dalam bentuk stensilan. Namun inilah pertama kalinya buku tentang anarkisme digarap secara serius dan beredar di toko buku mainstream. Apakah dengan ini wacana anarkisme diharapkan bisa dengan bebas memasuki ruang publik tanpa disertai kecurigaan dan resistensi? Sepertinya itulah yang hendak disasar oleh penerbit Marjin Kiri, seperti bisa dibaca pada penjelasan mereka: "Apakah kita tengah berada dalam era kebangkitan anarkisme global sebagai respon terhadap neoliberalisme global? Hal ini penting untuk dikaji, karena setelah kapitalisme dan komunisme turut menanggung dosa sejarah yang besar, barangkali anarkisme kontemporerlah yang bisa menawarkan alternatifnya." (Anarkisme, hlm. i). Mengkaji anarkisme secara ilmiah dalam konteks neoliberalisme sekarang tentu saja menarik, meski ada beberapa soal yang masih bisa diperdebatkan. Benarkah gerakan-gerakan antineolib yang sering disebut sebagai "masyarakat sipil global" ini sama dengan "anarkisme global"? Tidakkah neoliberalisme yang bertujuan menciutkan seminimal mungkin peran Negara justru berbatasan tipis sekali dengan prinsip anarkis yang menolak Negara terpusat?
Banyak pertanyaan belum terjawab dari buku Sheehan, namun kehadirannya diharap bisa memberi masukan baru dalam pemikiran progresif di negeri ini. Ketika "kiri" disebut-sebut, asosiasinya diharap tidak lagi tertuju secara kaku pada "sosialisme" atau "komunisme" semata, namun juga "anarkisme" dan pelbagai varian pemikiran libertarian lainnya. Sheehan bahkan menggaris­bawahi keberagaman spektrum politik kiri ini dengan menuliskan bahwa pihak yang paling banyak menghabisi gerakan anarkis justru bukan kaum kapitalis, melainkan Lenin dan Stalin yang komunis.
Tapi sebagai gagasan, anarkisme terbukti mustahil dihabisi. Dalam V for Vendetta tokoh V tanpa gentar menerjang peluru-peluru pistol sambil berkata ke penembaknya: "Kau hendak membunuhku? Tak ada darah atau daging di balik jubah ini yang dapat dibunuh. Hanya ada ide. Dan ide tahan peluru." (Vendetta, hlm. 236). Toh V tetap manusia dan mati juga kena peluru itu. Tapi Eve sang murid mengambil­alih jubah dan topengnya untuk menjadi V baru. Sama seperti ketika Uni Soviet ambruk dan kapitalisme dirayakan se­bagai pemenang tunggal, neo-anarkisme justru dengan cepat merebak di sekujur bumi: Chiapas, Seattle, Praha… Atau dalam kata-kata Eve yang sekarang men­jelma V: "Mereka bilang anarki sudah mati, tapi lihat saja… berita kematianku dibesar-besarkan." (Vendetta, hlm. 258).
Diambil dari: Koran Tempo, 25 Februari 2007
Ditulis oleh: Donni Ramdani (pencinta buku, Jakarta)
Judul Aseli tulisan: Mempopulerkan Anarkisme
Download Komiknya (Pdf, mediafire): V de Vendetta - Alan Moore & David Lloyd - Comp.rar

http://antifa-nusantara.blogspot.com/2012/01/v-for-vendetta-comics-menjelaskan.html

Mungkin Ini “Tangis yang Kuingin”




            Mungkin tak banyak dari kita yang senang menampakkan wajah, saat air mata pelan menetes mengairi pipi. Beberapa diantara kita (lelaki utamanya) kurang senang karena menganggap tangisan sebagai batas maskulinitas “mungkin benar” tapi sebagai manusia “sepertinya salah” tangis tentu manusiawi, apalagi bagi yang punya nurani.

            Tulisan ini lahir tentu bukan sebagai pembenaran untuk menjadi cengeng, bukan juga perintah untuk semua yang membaca tulisan ini agar kelak mau menangisi segalanya.  Menangisi segalanya jelas tak perlu, tapi kadang menangis itu perlu. Saya kenal seseorang yang beberapa tahun lalu benci menampakkan wajah jika dia sedang menangis, namun setelah bertemu lagi beberapa tahun kemudian saya mendapati dia berlinang air mata dihadapan seluruh trainee-nya sambil mengucapkan sebuah kalimat yang berhasil menyentuh beberapa nurani yang mati dan hadir dalam ruangan saat itu (termasuk saya) “Siapapun kau, jika kusentuh nuranimu dengan kisah tentang orang tua, maka pasti tak kuasa menahan tangis, dulu saya pernah benci menangis, sekarang saya malah bertanya, manusia macam apa yang hatinya tak tersentuh jika berbicara tentang orang tua” kalimat itu sejujurnya agak samar dalam ingatan, jadi saya rubah sedikit, sekaligus agar terasa lebih estetis.

            Menangis tentang orang tua, mungkin satu yang paling umum dari sekian alasan khusus sehingga kita menangis, ada beragam alasan yang masing-masing dari kita inginkan untuk menangis. Sebenarnya sederhana pesan yang ingin disampaikan dalam tulisan saya kali ini “tentang perlunya alasan, untuk sebuah tangisan” mungkin ada diantara kita yang memilih menangis untuk orang terdekat yang meninggalkan kita, ada juga yang sibuk menangisi kegagalan dalam pencapaian prestasi (ini biasanya berlaku bagi mereka yang ambisius) dan untuk beberapa alasan saya menganggap ini sebagai alasan yang egois. 

            Dari sekian alasan untuk menangis, meski semua terasa manusiawi, ada alasan yang hebat. Serupa dengan hidup “selalu ada yang berbeda” dan untuk beberapa alasan saya menganggap, bahwa berbeda itu adalah sesuatu yang hebat. Salah satu alasan yang saya pikir hebat misalnya, seseorang yang menangis melihat sesama mahkluk hidup yang kelaparan “itu hebat” karena disekiling kita orang-orang semakin banyak yang memilih menanggalkan kemanusiaannya, lebih memilih mendengkur kekenyanyangan daripada memperdulikan mereka yang kelaparan. Hebat kan ?. Dalam tulisan ini, sama sekali tidak ada paksaan untuk menentukan pilihan, karena saya pikir kebebasan menentukan pilihanlah yang membuat kita menjadi manusia merdeka. Namun, hanya mengingatkan “kadang apa yang kita pilih, adalah alasan nurani kita merintih” hidup itu sederhana “jangan bebani dirimu dengan pertimbangan, karena itulah yang menjauhkan kita dari kebahagiaan” .

Untuk Wartawan, Dalam Sebuah Orasi






Dalam sebuah orasi aku katakan
Yang dimana hadir para wartawan
Pulanglah kalian para wartawan
Sebab hari ini tak ada bentrokan
Untuk kalian beritakan pada pemesan
Para wartawan diam
Namun tetap tak mau pulang
Lalu kulanjutkan kalimat yang kuhentikan
Kami tahu kalian kini
Kalianlah yang membunuh nilai
Yang kami bawa dalam demonstrasi
Hingga sekarang perkawanan kita henti
Memang kalian kemanakan kejujuran ?
Yang dulu pernah kalian sanjung
Dimana kalian simpan kebenaran ?
Yang katanya kalian jadikan pedoman
Toh, saat kami lakukan penuntutan
Pada putusan yang tak memihak kebenaran
Yang kalian beritakan malah bentrokan
Seakan, gerakan kami ingin kau matikan
Maka pulanglah kalian, wartawan
Sebab kalian telah jadi lawan
Karena telah menjual banyak kebohongan
Dan menyimpan jauh-jauh kebenaran.

Sajak-Sajak Yang Kiri




Muhammad Shany Kasysyaf

Lusa yang lampau engkau semai
Lalu tumbuh membelah waktu
Pelan menguncup antara bebatu
Benih itu perlawanan
Di dada kiri manusia
Berdetaklah jantung menjaga hidup
Pastikan darah pada aliran
Seperti kiri dalam kepalan
Yang lestarikan perlawanan dalam teriakan
Dalam sajak-sajak yang kiri
Bersemayamlah perlawanan
Yang merindu perubahan
Dan tumbuh perlahan
Persis kura-kura berjalan
Tak mengapa tumbuh pelan
Asal perlawanan mekar pasti
Menjadi bunga yang besar wangi
Dan batangya mengoyak tirani
Juga seharum Revolusi