Pages

Kamis, 27 Maret 2014

Menuai Siri’ Mengakhiri Syair




Entah sejak kapan jadi begini ?
Bissu yang dulu manusia suci
Berubah reputasi, engkau sebut banci
Lalu siri’, menjadi sama dengan  magelli
Entah kapan dimulainya ?
Siri’ berubah jadi budaya iri
Membenci, sakit hati, dengki
Saat tak berhasil mencapai kedudukan tertinggi
Lalu harga diri
Berubah jadi budaya jual diri
Yang acuh pada nurani
Demi kepuasan perut sendiri
Dan sejak kapan ?
Perahu-perahu pinisi
Menciut dan berubah fungsi
Jadi pajangan di ruang tamu
Lalu Andi’, Karaeng, Daeng, Arung
Kini tak lebih dari silsilah
Tak lagi seperti dulu
Sebagai penerima hormat masyarakat
Sebagai penimbang keputusan dalam adat
Karena kini para Andi’ tak lagi berani
Karaeng, dan Daeng tak lagi madeceng
 Para Arung sudah tak mampu bertarung
Masing-masing hanya jadi awalan
Sebagai pelengkap nama dalam surat keterangan
Lalu kemana para pelaut ?
Yang dulu membelah laut hingga ke Aru
Dan tersohor sebagai hantu
Hingga jauh di tanah Eropa
Boogie Man”sebut para Eropa untuk mereka
Hai kau yang lahir di Selatan Sulawesi
Syair ini takkan selesai
Jika siri’mu belum kau tuai
Maka “selesaikanlah !”



Cinta Tak Banyak Meminta




Tahukah engkau hai “wanita” ?
Bahwa rupanya oleh cinta
Masih ada kata yang belum terbahasa
Adalah “meminta” yang belum dipahami cinta
Maka sampaikan pada lelakimu
Jika kelak dia mulai meminta
“Sepertinya untukku, kau tak lagi punya cinta !”
Lalu tahukah, engkau “perempuan” ?
Bahwa sesungguhnya
Dalam cinta tak ada kerinduan
Sebab, kerinduan hanya alasan
Bagi para lelaki tak sabaran
Yang tak paham, bahwa pertemuan
Sebenarnya nikmat, karena kita pernah berjauhan
Maka pahamilah wahai “gadis”
Sebenarnya hampir tak ada
Lelaki yang sungguh mengerti cinta
Kebanyakan hanya berbahasa
Tentang rasa sementara
Dan selebihnya jika ada
Yang manis berkata tentang cinta
“Jangan percaya !”
Sebab, itu hanya rayuan yang meminta
Maka sayangilah dengan jiwa
Mereka yang tak banyak meminta
Sebuah malam saat hati curiga “pada cinta”

Akhir Sebuah Hikayat



Dalam sebuah kitab
Tertulislah sebuah hikayat
Yang berkisah tentang riwayat
Seorang guru dari barat
Dikenal hingga para malaikat
Dialah guru orang-orang suci
Yang mengajarkan ilmu samawi
Dari fiqih hingga riwayat para perawi
Dari Syafi’i hingga Hanbali
Dari Muslim hingga Bukhari
Namun begitu cepat
Sang guru menutup riwayat
Dengan singkat mengakhiri hikayat
Di sebuah malam, dalam iringan para pelantun ayat
Dan dia tinggalkan seorang wanita renta
Menangis di samping jasadnya
Bersama si sulung dan beberapa saudaranya
Namun telah dia pesankan pada malam
Yang mengantar lelapnya kala itu
Sang guru tak pernah pergi
Hanya beristirahat terlalu lama
Karena malaikat lelah menghitung ibadahnya
Tak mampu menghitung langkahnya
Dan kelak terbangun lagi

Meledak Dalam Perlawanan



Sebenarnya tak masalah kau sebut aku apa
Asal kau mau berubah tanpa kupaksa
Asal kau mau mendengar suara-suara orang tersiksa
Tanpa perlu tunggu perintah dari mereka
Karena “Tuan” kau manusia bukan boneka

Wahai tuan penguasa
Sesungguhnya kau punya daya
Untuk merubah hidup orang-orang tersiksa
Mulai dari miskin desa, hingga kaum marjinal kota
Tapi kau memilih tunduk di bawah ketiak tetangga
Lantas apa gunanya kau kami beri kuasa ?

Maka wajarlah jika kami berteriak
Disaat kuasa tak kau gunakan secara wajar
Maka pantaslah jika kami melawan
Toh, hak kami dirampas maling yang pura-pura jadi tetangga
Lalu karenanya kau sebut kami pemberontak ?
Dasar penguasa tak berotak !

Maka sungguh bodohlah kami dulu, pernah percaya
Pada munafik pengemis
Yang berbalik menjadi Tuan
Maka tolollah kami sekarang, jika masih diam dan berpasrah

Adalah bohong jika  kami  tak marah
Kesabaran itu tak kekal seperti Tuhan
Dia surut seperti air laut 

Amarah, tidak diam seperti batu
Yang menunggu perhatian manusia atau binatang
Amarah menyimpan lahar seperti Merapi
Kelak, meledak dalam perlawanan