Aku menunggu malaikat tiba
dalam perang tanpa jeda,
tengah menanti doa
dalam drama tanpa suara.
Aku percaya bidadari ada
dengan cantik segala rupa.
Matahari menunggu malam tiada
Resah ingin
bercahaya
Menunggu jadi
pelita
Meski hanya
hingga malam tiba
Rinduku tenggelam di gurun
Jauh di bawah kaki penyamun
Yang merampok pedagang tenun
Hati membusuk
dalam kunyah,
Gerombol
belatung yang gelisah.
Satu tentara
tengah dipapah
Karena satu
kakinya patah.
Perang berlanjut tanpa suara
Malaikat tak tiba juga
Malam yang biasanya penanda
Bagi waktu yang jadi jeda
Terabai oleh para tentara
Pelan-pelan tiba
matahari
Satu persatu
tentara mati.
Dari jauh
penyamun mengawasi
Menunggu hingga
habis pagi
Hingga bising
peluru berhenti
Beri jalan bagi penyamun
kembali
Perang maju melintasi waktu
Para tentara mulai terserang rindu
Pada istri, pada anak dan ibu
Sampai suatu waktu,
Perang berubah jadi bisu
Telah habis suara peluru
Penyamun berhenti terpaku
Pikirnya “ini waktuku !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar