Pages

Senin, 30 Juni 2014

Batas Persinggungan



1/
Aku tak ingin jatuh cinta seperti para pendosa : yang menjadikan agama sebagai kuda, serta gemar meminjam nama Tuhan sebutuhnya saja. Cintaku haruslah sesuci penghuni Surga, yang sebelumnya habis dibenamkan untuk pembersihan di dasar Neraka.
2/
Aku tak bisa jadi pendusta. Seperti rasa aman di Orde baru, yang mengubur kebenaran di segala penjuru. Atau seperti Negara yang dibangun dengan hutang yang diwariskan sebagai kekayaan. Cintaku tidak sepalsu itu.
3/
Bukan simbiosis antara ternak dan gembala. Atau seperti barang dagangan di pasar swalayan. Cintaku tak punya kembalian. Tidak pula seperti politikus yang pandai bermain kotor. Atau media yang gemar jadi provokator. Aku tidak sepicik itu mencintaimu.
4/
Tapi jangan kemana-mana bila tak kuminta. Sebab aku menghalalkan semua cara agar kau tak pergi. Bisa lebih fasis dari Musolini, atau sehalus hegemoni Gramsci. Asal kau tak pergi, aku pasrah menerima serapah, seperti komunis yang dimusuhi berkat rekayasa awak media.

Terinspirasi dari sebuah sajak tanpa judul milik akun tumblr dengan nama “sembariberlari”

Selasa, 24 Juni 2014

Tentang Mapala dari Dua Mata

oleh : Gurita Mapala Teknisi UNM (Abdul Rajab)

MAPALA adalah organisasi yang boleh dikata tak terstruktur secara rapi ditingkat nasional.
MAPALA tak miliki seragam se-nasional dan memang karakternya yang tak bisa diseragamkan. Tak suka diatur-atur. he he .
MAPALA tak miliki banyak aturan.
Tak miliki emblem sebagai tanda kecakapan atau pin yang berwarna keemasan. Identitas khas MAPALA hanyalah slayer yang sering dipakai dileher sebagai penanda, yang juga sebagai penyeka keringat & pengikat luka, jika dibutuhkan.
.
MAPALA memang seolah berisi anak urakan & ugal-ugalan. Karena sesungguhnya MAPALA berisi anak-anak muda yang miliki energi berlebih. Tak heran kemudian diwaktu senggangnya menunggu banjir tiba, menunggu gunung meletus tiba. Mereka suka memanjat dinding / tebing batu, keluyuran dihutan & sungai. Dan tempat-tempat yang membuat mereka kelelahan dengan sendirinya. Sehingga tak ada waktu untuk tawuran dijalanan. Atau demo membakar ban ketika pejabat mau datang.
.
MAPALA tak miliki asset layaknya saudara tuanya yang miliki bumi perkemahan dimana-mana. Yang miliki struktur begitu
rapi, hingga presiden dijadikan bapak pandunya.
.
MAPALA tak miliki koneksi birokrasi layaknya saudara mudanya yang dinaungi oleh departemen sosial. Baru lahir sekian bulan, langsung sudah punya mobil operasional lengkap dengan anggaran tahunannya.
.
MAPALA layaknya sebuah brand dagangan ditengah lokasi bencana. Masyarakat pun dengan mudah mengenal anak-anak MAPALA. Dari aroma & cara makannya. hehe
.
MAPALA tak miliki donasi luar negeri, tak
miliki kepentingan politik, tak miliki pasokan logistik cukup banyak untuk bertahan lama dilokasi bencana. Yang mereka miliki adalah tekad, sejumlah lembar uang SPP kuliah & kost untuk membiayai operasi-operasi mereka.
.
Makanya tak heran anggota MAPALA seringkali “melacur” dan menyisip ke organisasi apa saja. Yang tak lain untuk bisa melampiaskan hasratnya untuk menolong sesama.
.
Yang dimiliki MAPALA adalah tekad. Menjadi bagian anak bangsa yang terlibat.
.
Anak bangsa yang dilahirkan dari rahim Ibu dan pundak Ayah yang tabah. Sehingga ketabahan itu menurun pada kalian.
Karena kalian dilahirkan untuk “itu”.
.
Juga karena rasa Persaudaraan, maka jangan heran jika anak anak MAPALA selalu hadir menolong disetiap musibah, karena bagi mereka setiap manusia adalah saudara

Jumat, 20 Juni 2014

Kabar dari Calon Orang Hilang, Kepada yang Masih Hilang



Tahukah rasanya kehilangan suami ?
Atau terpisah dari anak  istri ?
Bagaimana rasanya dihapus dari waktu :
Hanya sebab menuntut hakmu.
Kian lama, kian bertanya
Kepalaku kian tersiksa
Memikirkan nasib sendiri
Bila memilih jalan yang serupa.

Aku resah melihat realita
Tapi tak mampu banyak bicara
Aku marah pada semuanya
Tapi tak berani banyak tanya :
Soal hukum yang berkasta
Soal buruh yang diperah pengusaha
Soal keadilan yang main mata
Soal kebenaran yang direkayasa
Serta soal-soal lain yang belum dijawab waktu.

Bahkan setelah begitu lama
Peluru-peluru itu masih tajam
Dan para penakut masih terbungkam
Gas air mata masih terasa perih
Dan suara kebenaran masih tetap lirih.

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Dunia tetap sama setelah kau tiada,
Anak-anak masih jadi ternak orang tua
Untuk dijual pada Negara atau pengusaha.
Sekolah masih setia berdagang kebohongan

Hanya kampus yang turun kasta
Dari ruang-ruang perjuangan
Menjelma jadi ruang-ruang perbudakan
Serta lahan praktik, upeti jaman kerajaan.
Dosen-dosen pandai menuntut
Dan mahasiswa pandai menurut
Kuliah tak lebih dari sekedar manggut-manggut.

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Dunia masih sama
Tapi aku menolak lupa.
Para penjahat tak boleh lagi jadi penguasa
Para bangsat, tak pantas jadi aparat.
Dan yang keparat
Harus  dicegat sebelum jadi birokrat
Sedang para korporat laknat
Harus berakhir di dasar tungku Neraka

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Tentang calon orang hilang selanjutnya
Yang siap mewariskan tangis kesedihan
Kepada sanak dan kawan yang akan ditinggalkan

#Tribute to Wiji Thukul #Refuse to Forget

Kamis, 19 Juni 2014

Sebagai Cuaca



Aku ingin mati sebagai sejarah
Tak peduli sebagai siapa
Bisa seorang sunni atau syiah
Atau nasrani, atau yahudi
Asal tidak sebagai pesakitan

Aku ingin mati berguna
Tak peduli berakhir dimana
Entah surga, entah neraka
Bukan masalah jika tersiksa di neraka
Peduli setan bila berlimpah kesenangan surga
Asal mati di jalan yang nurani minta

Aku mau mati dalam perenungan
Lalu berganti wujud jadi sesuatu
Semisal Sidharta Gautama yang menjelma Budha
Atau phoenix yang lahir dari abu kematiannya

Seandainya reinkarnasi benar terjadi
Aku ingin terlahir sebagai cuaca
Yang kabar kehadirannya
Setia ditunggui manusia

Makassar. Tanpa waktu.

Senin, 16 Juni 2014

Bermain Kata Ganti



Mungkin karena cinta hanya sebagai kata ganti
Sehingga cinta punya berjuta definisi :
Bisa jadi soal dua sejoli yang saling menyelingkuhi.
Atau pria, atau wanita yang pasangannya sering berganti
Seperti aturan mandi dalam sehari.
Tapi cinta tak sesederhana ini.

Namun jika benar adanya :
Soal cinta yang jadi kata ganti belaka
Apa cukup jika kuganti saja
Kata cinta dengan nama wanita yang kupuja
Tapi ini terlalu sederhana.

Terinspirasi dari kumpulan percakapan bersama Anhar Dana Putra

Sabtu, 14 Juni 2014

Tentang Kau dan Aku “Sebut Saja Kita”



Kau adalah pujangga yang menulis syair penyayat jiwa.
Perupa, dari patung yang mendekap lutut menahan luka
Pemusik, yang mencipta nada-nada penuh duka
Kau dan aku adalah bagian dari sebuah cerita cinta
Yang dihindari oleh setiap manusia
Enggan dibaca oleh penikmat cerita bahagia

Kita seperti tumpukan buku yang berdebu
Yang lama bisu di ruang tunggu
Dan hanya dibaca oleh para penunggu
Kau dan aku telah saling tahu
Kita adalah sepasang rindu tanpa titik temu
Yang menderita karena pertemuan kita dipagari waktu

Andai semua benar-benar tentang kau dan aku
Andai cerita ini benar-benar tentangmu dan aku
Sayangnya kita hanya ada dalam kepalaku
Sayangnya ini hanya tentang aku yang jadi bonekamu
Atau kau yang jadi majikanku
Sayangnya cerita cinta tentang kita tak pernah benar-benar ada
Sebab aku adalah satu dari berjuta manusia
Yang tidak mengartikan cinta
Dengan kata ganti “bahagia”

Maka tentang kau ataupun aku
Atau kita, atau mereka
Cerita ini tak pernah ada.