B U M I: Kabar dari Calon Orang Hilang, Kepada yang Masih Hilang

Kabar dari Calon Orang Hilang, Kepada yang Masih Hilang



Tahukah rasanya kehilangan suami ?
Atau terpisah dari anak  istri ?
Bagaimana rasanya dihapus dari waktu :
Hanya sebab menuntut hakmu.
Kian lama, kian bertanya
Kepalaku kian tersiksa
Memikirkan nasib sendiri
Bila memilih jalan yang serupa.

Aku resah melihat realita
Tapi tak mampu banyak bicara
Aku marah pada semuanya
Tapi tak berani banyak tanya :
Soal hukum yang berkasta
Soal buruh yang diperah pengusaha
Soal keadilan yang main mata
Soal kebenaran yang direkayasa
Serta soal-soal lain yang belum dijawab waktu.

Bahkan setelah begitu lama
Peluru-peluru itu masih tajam
Dan para penakut masih terbungkam
Gas air mata masih terasa perih
Dan suara kebenaran masih tetap lirih.

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Dunia tetap sama setelah kau tiada,
Anak-anak masih jadi ternak orang tua
Untuk dijual pada Negara atau pengusaha.
Sekolah masih setia berdagang kebohongan

Hanya kampus yang turun kasta
Dari ruang-ruang perjuangan
Menjelma jadi ruang-ruang perbudakan
Serta lahan praktik, upeti jaman kerajaan.
Dosen-dosen pandai menuntut
Dan mahasiswa pandai menurut
Kuliah tak lebih dari sekedar manggut-manggut.

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Dunia masih sama
Tapi aku menolak lupa.
Para penjahat tak boleh lagi jadi penguasa
Para bangsat, tak pantas jadi aparat.
Dan yang keparat
Harus  dicegat sebelum jadi birokrat
Sedang para korporat laknat
Harus berakhir di dasar tungku Neraka

Aku mengabarimu yang masih hilang :
Tentang calon orang hilang selanjutnya
Yang siap mewariskan tangis kesedihan
Kepada sanak dan kawan yang akan ditinggalkan

#Tribute to Wiji Thukul #Refuse to Forget

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © B U M I Urang-kurai