Pages

Minggu, 28 September 2014

Sebagai Mayat

Sebagai mayat, tiada hak campur tangan kita dalam urusan yang masih manusia ;
Sebab sebagai mayat, kita seharusnya tiada.
Sebagai mayat, kita tak punya wewenang dalam pembicaraan para peziarah ;
Soal demokrasi yang turut jadi mayat bagi rakyat,
atau soal Abdi Negara (seharusnya Hamba) yang berlagak kuasa.

Sebagai mayat, adalah hakikat ketika kita dilupakan.
Sudah selayaknya kita diabaikan.
Sebagai mayat, kita biasa terpasung diam sendiri di makam.

Sebagai mayat, kami marah ;
Menyaksikan manusia yang memasung suaranya,
Padahal masih punya hak.
Sebagai mayat kami murka ;
Di lupakan tak pernah menyenangkan, tapi kenapa ?
Beberapa dari kalian sengaja lupa saat yang lain menolak lupa.

Sebagai mayat, kami ingin bertukar tempat ;
Dengan mereka yang membuang haknya,
Dengan manusia yang enggan jadi dirinya karena takut pada kematian.
Biarlah, sebab sebagai mayat kami paham betul rasanya kematian.


Makassar, September. Di kampus yang pelan jadi mayat.

Selasa, 16 September 2014

Elegi Sebuah Nama


1/
Aku masih meratap depan namamu, terukir di sebuah batu dengan catatan waktu. Hanya tangis yang kau sisa sebagai hadiah di hari ulang tahunku, ulang tahun pernikahan kita juga. Sekarang aku bisa apa ? hanya menyesal untuk semuanya, untuk semua janji yang tak bisa kujaga, dan untuk seorang anak yang kelak harus merasa cukup dengan seorang ayah. Ketika malam tiba, aku hanya bisa menyimpulkan kenangan.
2/
Waktu itu aku belum tahu namamu, hanya nama setelahmu di absen kelas kita. Aku sempat jatuh cinta pada dia juga dan kau setelahnya. Waktu itu aku merasa cukup sebagai teman, tapi belakangan kita jadi lebih dekat sejak duduk sebangku. Bersamamu, aku sering merasakan waktu sebagai tungku perapian yang enggan padam.
3/
Berselang tujuh tahun setelah duduk sebangku, aku masih duduk bersisian denganmu. Bukan dengan seragam putih abu-abu seperti dulu, tapi dengan pakaian adat di depan penghulu. Kita menikah, setelah sebangku kita akhirnya serumah.
4/
Di tahun pertama pernikahan kita, semua masih berjalan wajar. Kau beri kabar gembira beberapa bulan berselang , setelah ulang tahun pernikahan yang pertama. Tepat beberapa hari sebelum ulang tahun pernikahan yang kedua.
5/
Di tahun kedua, hari-hari kita diisi dengan pertengkaran. Aku yang lelah dengan rutinitas, kau dengan suami yang tak punya pekerjaan. Kita sama-sama frustasi menjelang kelahiran anak pertama.
6/
Aku tak menyelesaikan bait ke enam, sengaja kulakukan agar namamu tak dikenang sebagai tragedi dan kisah kita tak berakhir sedih. Aku ingin mengenangmu sebagai cinta, bukan sebagai luka. Meski pernah aku lupa bahwa kita telah bersama, hingga sempat kuberi cinta kita ke lain wanita. Tapi kau wajib tahu, selayaknya pria aku tergoda untuk tak setia. Demi sebuah nama, maafkan aku. Demi nama seorang anak yang kau tinggalkan, nama anak kita.

*Penulis, Muh. Shany K adalah mantan calon mahasiswa sastra entah dimana. Sekarang aktif sebagai mahasiswa Psikologi UNM angkatan 2012. Sedang sibuk kuliah sambil bekerja (kerja tugas kuliah dan semacamnya)

Minggu, 14 September 2014

Pemilik Ruangmu Kelak




Letih tapakku menyusur menjadi jejak menujut tempat terjauh di riwayatmu.
Mencari ruang kosong di hatimu yang mungkin bisa kupenuhi,
Seperti halnya kau penuhi kepalaku dengan berita tentangmu.
Kemudian kelak kita tafsirkan semua dalam cerita ini sebagai dendam.

Perlu kau tahu, aku pernah mencoba menyerah.
Tapi gagal sesering aku mencoba, seperti puisi dalam buku catatanku yang tak mampu kuselesaikan.
Aku masih percaya Tuhan tak sepihak menetapkan cinta di hati yang gulita
Meski dalam penantian kadang Tuhan menguji di luar batas
Tapi dimana lagi rindu ini bisa pulang kalau bukan kepadamu,
Siapa lagi yang bisa jadi tuan bagi cinta yang lama ditinggalkan pemiliknya,
Siapa lagi jika bukan dirimu.

Beri aku nama, selain kau. Hatiku tak percaya.
Dan pemuda yang sekarang bersamamu itu sama saja,
Dengan lelaki yang sudah-sudah menjadikanmu sebagai persinggahan.
Tapi kau perlu membuktikannya agar aku tak jadi pendusta.

Maka kuputuskan mufakat dengan diri sendiri untuk menunggu lebih lama.
Dan membiarkannya tetap di sana, untuk kugantikan kelak sebagai pemilik ruang yang baru.

Kampus waktu minggu, September 2014.

Jumat, 12 September 2014

Merdeka Kita Masih Fana

Kita pernah terjajah dalam durasi abad secara nyata
Lalu merdeka, tapi berlanjut sebagai perbudakan yang kasat

Dulunya kita tunduk tak melawan karena ketakutan
Kita ketakutan sebab mereka pegang senjata
Mereka adalah maling berwajah manis pada awalnya,
Dan baru kita sadar siapa mereka
Setelah timah panas yang menembus jutaan kepala.

Kini kita masih tunduk :
Lewat hiburan, atau selubung pendidikan
Kepala kita diracuni dengan kelamin dan dada wanita
Anak-anak di sekolah dididik jadi pekerja dan penjilat.
Bila dulunya kepala kita cukup terlindung dari Jepang atau Belanda.
Hari ini kita perlu melindungi kepala dari aparat Negara.
Aku tak bercanda, seperti awak media yang menjual sampah.
Kau perlu kembali belajar sejarah dengan benar bila tak percaya.

Entah benar tolol atau pura-pura
Tapi sebagian kita buta, sebagian lagi sengaja
Sebagian lagi mendengar tapi kabur sambil tutup telinga
Maka jangan tersinggung jika aku sabda :
"Merdeka kita masih fana"

Negeri ini masih punya harapan.
Tak perlu malaikat, cukup mereka yang mau berbuat.
Tidak perlu minta Tuhan menurunkan Nabi
Kita hanya perlu orang yang berani. 

Berjudul Waktu

Dunia seperti ruangan pada sebuah gedung pencakar langit
Dalamnya tak terhingga wajah yang memainkan sandiwara
Di atas panggun seorang seniman

Panggung itu kita namai semesta
Sang seniman masih jadi perdebatan soal nama
Sedang sandiwaranya berjudul waktu



Kamis, 11 September 2014

Yang Hewan Lebih Baik Dari Manusia

Ayam menyerah ketika berusaha jadi kuda
Kucing tak pernah mencoba jadi macan.
Sebab hewan-hewan lebih paham hakikat penciptaan

Tapi manusia tak pernah lelah mencoba bertanding melawan Tuhan.
Dikiranya uang dapat membeli surga-neraka

Tuhan Bermain

Lingkaran zaman pernah terbagi jadi lengkungan
Pada sebuah tepian waktu yang purna.

Kala itu cerita belum jadi kata, dan bahasa belum ada
dan Tuhan belum punya semesta.

Karena kesepian Tuhan menciptakan semesta dan penghuninya
sebab waktu tak mampu berbincang bersamaNya
dan tak mampu inkarnasi jadi mahkluk yang wujud

Tapi Tuhan butuh kesenangan
dalam kesendirian di suatu masa.
Lalu dia ciptakan penghuni semesta yang menghamba.

Kamar Bumi, September 2014