Sebagai Mayat
Sebagai mayat, tiada hak campur tangan kita dalam
urusan yang masih manusia ;
Sebab sebagai mayat, kita seharusnya tiada.
Sebagai mayat, kita tak punya wewenang dalam
pembicaraan para peziarah ;
Soal demokrasi yang turut jadi mayat bagi rakyat,
atau soal Abdi Negara (seharusnya Hamba) yang
berlagak kuasa.
Sebagai mayat, adalah hakikat ketika kita dilupakan.
Sudah selayaknya kita diabaikan.
Sebagai mayat, kita biasa terpasung diam sendiri di
makam.
Sebagai mayat, kami marah ;
Menyaksikan manusia yang memasung suaranya,
Padahal masih punya hak.
Sebagai mayat kami murka ;
Di lupakan tak pernah menyenangkan, tapi kenapa ?
Beberapa dari kalian sengaja lupa saat yang lain
menolak lupa.
Sebagai mayat, kami ingin bertukar tempat ;
Dengan mereka yang membuang haknya,
Dengan manusia yang enggan jadi dirinya karena takut
pada kematian.
Biarlah, sebab sebagai mayat kami paham betul rasanya
kematian.
Makassar,
September. Di kampus yang pelan jadi mayat.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar