Pages

Rabu, 08 Oktober 2014

Sajak Terka Mengira

Selalu menyenangkan menyaksikan kota malam hari, begitu tenang ; tanpa serapah dan caci maki, sayang malam hari di kota banyak yang mati.

Menyaksikan langit malam, menyaksikan kenangan. Mengira-ngira suasana pegunungan ; sedang apa kabut bersama dedaunan ?

Menyaksikan nisanmu, mengenang tawamu. Mengira-ngira sepi di makammu ; adakah telinga malaikat penjaga makam mendengar sebaik telingaku dulu ?


Merupai waktu, merupai senyummu. Menerka-nerka lelaki yang mengisi ruang rasamu ; apakah aku, atau memang lelakimu ?



Makassar, waktu itu kemarau sedang senang bertamu.

Penulis *Muh. Shany Kasysyaf adalah mahasiswa yang mengira dirinya Ultraman Gaia ; datang dari planet berjuta tahun cahaya untuk membersihkan dunia manusia dari setan-setan bernama keserakahan.

Sebagai Kerikil

Aku melihat kerikil di sungai yang dangkal, begitu tabah ; tenggelam, terinjak para penyeberang. Tanpa keluh sepanjang waktu.
Andai aku kerikil di sungai yang dangkal itu, mungkin menunggu bukan masalah dan terluka jadi begitu sederhana.
Aku menyaksikan kerikil di sungai yang dangkal ; begitu berguna dan tak pernah meminta balas jasa. Menjadi rumah, atau sekadar pelampiasan orang putus cinta buat dikembalikan ke dasar sungai yang dangkal.
Anda kerikil adalah pejabat Negara, pasti tak begitu gunung anggaran Negara buat mengenyangkan perut-perut tanpa ruangan.
Aku iri melihat kerikil bisa begitu ihklas. Ah, seandainya kerikil adalah wakil rakyat pasti demonstrasi tak perlu ada.

Makassar, di suatu Minggu (bulan oktober)



Penulis *Muh. Shany Kasysyaf adalah mahasiswa yang mengira dirinya Ultraman Gaia ; datang dari planet berjuta tahun cahaya untuk membersihkan dunia manusia dari setan-setan bernama keserakahan.