Untuk Bunda,
semesta dan segalaku.
Ketika
memendam sesuatu semisal perasaan, tanpa sadar kita menciptakan bom yang bisa
meledak karena dua alasan :
1. Tombolnya
baru saja ditekan
2. Mekanisme
picu waktunya telah habis masa
Tulisan ini ada
karena alasan kedua. Sebagai penyair (sebut saja demikian) ketakutan terbesarku
adalah hilang kata, dan kau tahu bunda “di hadapanmu aku kehilangan segalanya”
mendadak aku berhutang kalimat untuk kusampaikan. Bukan untuk kupamerkan, tapi
untuk menegaskan bahwa terlepas dari seluruh perangai yang kutampakkan “aku
mencintaimu dengan segenap kesadaran” biarlah aku dicibir orang-orang asal
tulisan ini bunda baca.
Beberapa malam
setelah telepon terakhir bunda yang memintaku pulang, semestaku hilang sejenak,
seluruh atensiku tertumpu pada kenangan tentang rumah, tentang ayah, tentang
adik yang masih balita, dan dua adik remajaku yang sering bertengkar denganku.
Tahukah bunda bahwa tiap kalimat, tiap permintaan bunda untuk lekas sarjana,
juga pinta bunda yang memintaku cukup jadi mahasiswa yang kejar ijazah agar aku
bisa hidup layak nantinya. Sesungguhnya seluruh kata yang kutangkap sebagai
suara, semua kusesap habis hingga ke ubun-ubun kepala, tak habis kuserap
sebagai kata pun juga sebagai makna.
Biar kujelaskan
semuanya agar bunda tak salah paham, sejujurnya aku masih manusia. Biar kuingatkan
kalau sebelumnya kita tak menghabiskan waktu terlalu banyak selayaknya anak dan
orang tua. Dalam 20 tahun masa hidupku, enam tahun kuhabiskan dengan orang tua
ayah, tiga tahun kuhabiskan berasrama untuk belajar ilmu agama, tiga tahun
bersama ayah bunda di masa SMA (itupun separuhnya diisi pembangkangan masa
remaja). Lalu disinilah aku sekarang, dan dari sedikit waktu yang kuhabiskan
bersama kalian aku menyesal hampir seluruhnya kulalui tanpa terima kasih dan
kata maaf.
Tahukah bunda alasannya,
kenapa belakangan aku tak lagi banyak meminta meski aku begitu menginkan
sesuatu ? Akupun merindukan rumah bunda, rindu ayah, rindu kedua adikku yang
remaja (bertengkar dengan mereka), rindu adikku yang masih balita tapi ingin
tahu segalanya, rindu masakan bunda, tapi “maaf bunda” aku pantang pulang
sekarang.
Biar kutegaskan “ini
adalah hukuman” untuk diriku sendiri tentunya. Aku tak yakin bisa sarjana bunda,
aku tak bisa menjanjikan kelak bisa dijejerkan sebagai salah satu putra terbaik
desa kita. Ingatkah bunda dengan tabiatku yang pembangkang ? sepertinya ini
kudapat dari ayah “bunda pikir apa alasannya ayah berkali-kali kehilangan
pekerjaan ? “ aku tebak karena ia juga gemar melawan atasan. Tabiat ini terwaris
dari sejarah ke darah, begitulah mekanisme genetika manusia bekerja sepertinya.
Sementara institusi pendidikan hari ini enggan mendidik mahasiswa pembangkang,
mereka hanya ingin meluluskan mahasiswa baik-baik agar tidak buruk citranya di
mata penguasa. Tidakkah bunda merasa alasan keraguanku makin terang ?. Berita
tentang pejabat kampusku yang korupsi
dengan jumlah fantastis kemarin hari dimuat di surat kabar, dan itu aib besar
bagi sebuah institusi pendidikan.
Adakah alasanku untuk
diam saja ? Bunda, tahukah bunda kalau aku adalah generasi terakhir dalam
sejarah pendidikan tinggi yang uang kuliahnya disubsidi Negara, yang berarti
bukan ayah bunda satu-satunya yang berjasa jika nanti aku jadi sarjana. Disubsidi
Negara berarti, aku kuliah disokong uang rakyat dari seluruh kelas sosial yang
ada. Dalam skala probabilitas ilmu statistik, subsidi itu bisa saja berasal
dari pungutan Negara yang diambil dari nelayan seberang rumah yang tiap hari
harus melaut dan bertaruh maut, atau dari hasil tanah milik petani belakang
rumah yang kesabarannya menunggu musim selalu membuatku kagum.
Sekarang aku tinggal
di ibukota, setiap hari dalam perjalanan dari rumah ke kampus atau sebaliknya selalu
aku saksikan banyak anak menghabiskan waktunya dijalanan, entah sebagai
pengamen, atau tukang Koran. Jalanan adalah tempat bermain mereka, sekaligus
sekolah tentunya karena pendidikan yang biayanya semakin mencekik. Lalu penguasa
menaikkan harga-harga seenaknya, sembari mengira tak ada yang merasa menderita
karenanya. Petani di belakang rumah, nelayan dan kapalnya, anak-anak jalanan di
ibukota, hatiku menangis setiap hari, mataku setiap detik tersiksa menahan
lelehan airnya karena takut dibilang cengeng. Mereka yang melarat tapi masih
rela memberi bantuan kepadamu yang sebenarnya cukup agar aku bisa jadi sarjana “dimana
rasa terima kasihku ketika diam saja ?” bagi setiap manusia yang masih merasa
manusia,dan mahasiswa yang masih mahasiswa : bukankah hampa dan kering makna
ketika gelar sarjana kudapatkan mudah saja, padahal aku belum berguna apa-apa
bagi siapa-siapa.
Aku ingin tetap jadi
manusia bunda. Bukan jadi robot pekerja yang menghabiskan waktunya tanpa rasa,
tanpa sedikitpun membantu sesama hingga habis masa. Biarkan aku berjuang selagi
keberanianku masih ada, selagi belum ada anak istri yang harus kupusingkan
nasibnya di rumah, selagi nuraniku masih ingat cara menangis dan meronta kala
merasai kepahitan nasib orang-orang sekitar. Boleh kau coret aku dari kartu
keluarga bila tak rela anakmu ini jadi tumbal perjuangan, aku ihklas dengan
sungguh demi status sosial dan seluruh tanggun jawab yang kuemban sekarang. Bunda,
aku tahu kau mengenalku selalu makanya aku lancang meminta restu.
Negeri
ini merdeka bunda, tapi hanya bagi penguasa dan kaki tangannya. Izinkan aku
mengejarnya sebagai baktiku paling berharga. Untuk membayar seluruh hutang
dosa.
Dari
seorang anak, yang tak pernah mencintaimu dengan layak.