Pages

Minggu, 01 Februari 2015

Surat Cinta Untuk Tuhan Yang Pendiam

Jangan salah paham, aku bodoh jika menerkanya sebagai mungkin saja. Bukannya Kau paham segalanya. Sedang “jangan salah paham” hanya kalimat pembuka untuk sekedar basa-basi. Kau telah paham segalanya jauh sebelum permulaan (bahkan kau yang berikan). Ini bukan tentang aku yang membenciMu, kita tahu semuanya telah berlalu. Semua soal jarak, aku jauh dariMu terlalu lama hingga jadi rutinitas lantas lupa caranya pulang. Lalu masihkah ada kesempatan setelah segala taubat yang kupermainkan ?
            Kemarin aku digurui salah satu mahklukMu. Ia mengaku hadir pada masa pertunjukan penciptaan manusia pertama, juga mengaku sebagai pelaku yang mengingkari keberadaan manusia dan menyangkal hakikat penciptaannya. Ia bilang cemburu menguasainya dan akan jadi tabiat hingga kiamat (begitulah kemudian mulanya cemburu dikenal lalu diajarkan pada seluruh garis keturunan manusia).
            Aku di beri pengajaran oleh sang guru yang mengingkari manusia, bahwa diamnya Tuhan adalah emas. Kemudian menyimpulkan sebagai kewajaran setiap firman yang dipalsukan selayaknya emas dikaratkan. Belajar dari peristiwa yang kusaksikan sehari-hari di televisi, tentang ayat-ayat Tuhan yang sukarela melacur di mulut calon penguasa. Bukankah semua titik hubung ini memberi penjelasan ? Tuhan telah bersikap selayaknya Tuhan “DIAM” dan itu benar-benar emas bagi para pendosa.
            Pernah aku dicibir seorang kawan karena tak memujiMu dalam bahasa kitab. Lihatlah karena Kau diam, salah satu hamba mengira Kau tak bisa bahasa Indonesia. Padahal pernah ada kutipan “Kau berjanji mengabulkan segala doa seluruh bahasa” entah terdapat pada firman, atau sabda rasul akhir zaman.

            Aku tahu bahwa Kau telah lama tahu, tentang aku yang mencintaiMu dengan sungguh dan seluruh. Seperti cinta seorang Qais kepada Laila hingga gila, seperti cinta seorang ilmuwan pada penemuan jawaban, seperti cinta seorang filsuf  pada pertanyaan. Bersama surat ini aku memohon izinMu, untuk melangkahi waktu beberapa anak tangga. Agar ada cerita yang berakhir segera, dan tak terlalu lama aku menunggui Neraka. Karena aku lelah bertahan pada hukuman pengabaian yang Kau lakukan. Tolong beri alasan, bila caraku mencintaiMu adalah salah. Ajari aku cara kebenaran, jangan diamkan kesalahan yang kulakukan.

Makassar, bersama kopi dan kretek yang diam-diam habis.

NB : Tulisan ini untuk Tuhan yang mungkin sedang sibuk membaca doa-doa para hamba di dunia maya.


#Bukan30HariMenulisSuratCinta

Tidak ada komentar:

Posting Komentar