Surat Cinta Untuk Tuhan Yang Pendiam
Jangan
salah paham, aku bodoh jika menerkanya sebagai mungkin saja. Bukannya Kau paham
segalanya. Sedang “jangan salah paham” hanya kalimat pembuka untuk sekedar
basa-basi. Kau telah paham segalanya jauh sebelum permulaan (bahkan kau yang
berikan). Ini bukan tentang aku yang membenciMu, kita tahu semuanya telah
berlalu. Semua soal jarak, aku jauh dariMu terlalu lama hingga jadi rutinitas
lantas lupa caranya pulang. Lalu masihkah ada kesempatan setelah segala taubat
yang kupermainkan ?
Kemarin aku digurui salah satu
mahklukMu. Ia mengaku hadir pada masa pertunjukan penciptaan manusia pertama,
juga mengaku sebagai pelaku yang mengingkari keberadaan manusia dan menyangkal
hakikat penciptaannya. Ia bilang cemburu menguasainya dan akan jadi tabiat
hingga kiamat (begitulah kemudian mulanya cemburu dikenal lalu diajarkan pada
seluruh garis keturunan manusia).
Aku di beri pengajaran oleh sang
guru yang mengingkari manusia, bahwa diamnya Tuhan adalah emas. Kemudian menyimpulkan
sebagai kewajaran setiap firman yang dipalsukan selayaknya emas dikaratkan. Belajar
dari peristiwa yang kusaksikan sehari-hari di televisi, tentang ayat-ayat Tuhan
yang sukarela melacur di mulut calon penguasa. Bukankah semua titik hubung ini memberi
penjelasan ? Tuhan telah bersikap selayaknya Tuhan “DIAM” dan itu benar-benar
emas bagi para pendosa.
Pernah aku dicibir seorang kawan
karena tak memujiMu dalam bahasa kitab. Lihatlah karena Kau diam, salah satu
hamba mengira Kau tak bisa bahasa Indonesia. Padahal pernah ada kutipan “Kau
berjanji mengabulkan segala doa seluruh bahasa” entah terdapat pada firman,
atau sabda rasul akhir zaman.
Aku tahu bahwa Kau telah lama tahu,
tentang aku yang mencintaiMu dengan sungguh dan seluruh. Seperti cinta seorang
Qais kepada Laila hingga gila, seperti cinta seorang ilmuwan pada penemuan
jawaban, seperti cinta seorang filsuf
pada pertanyaan. Bersama surat ini aku memohon izinMu, untuk melangkahi
waktu beberapa anak tangga. Agar ada cerita yang berakhir segera, dan tak
terlalu lama aku menunggui Neraka. Karena aku lelah bertahan pada hukuman
pengabaian yang Kau lakukan. Tolong beri alasan, bila caraku mencintaiMu adalah
salah. Ajari aku cara kebenaran, jangan diamkan kesalahan yang kulakukan.
Makassar, bersama kopi dan kretek yang diam-diam habis.
NB : Tulisan ini untuk Tuhan yang mungkin sedang sibuk membaca doa-doa para hamba di dunia maya.
#Bukan30HariMenulisSuratCinta
#Bukan30HariMenulisSuratCinta

Tidak ada komentar:
Posting Komentar