Sajak Kematian Tanpa Duka
Sepi sesekali jadi
tempat paling rumah,
Untuk bersembunyi.
Disana kesedihan
diselami,
Bukan disesali.
Aku pernah berkali-kali
ditinggal pergi :
Oleh kawan, kerabat,
sahabat, dan kekasih yang bosan.
Juga menyaksikan
kematian.
Bukan sekali, tapi
berkali-kali.
Sampai lupa rasa sesak
kehilangan,
Juga cara menangis di
pemakaman.
Aku tahu, setiap
kehilangan adalah pelajaran.
Dan setiap pelajaran,
pantas dapat perayaan.
Lalu aku menulis sajak.
Karena aku tak tahu
caranya berdoa,
Kupikir sajak seperti
doa, atau cara lain merawat pusara.
Atau seperti ziarah, dan
menabur bunga.
Dan aku tahu hanya
dalam sajak,
Manusia
mampu hidup selamanya
(meski hanya dalam
kepala)
Makassar, pinggir jalan.
Beberapa hari setelah ditampar nilai kuliah.
Untuk* Mukarom Sasefa,
Yusriandi, Fadli Agusta dan Mutia A (Mereka setara), Ust Zakaria, Ust Jufri, Gurutta Wahab, Anang Guru Arief Liwa Paliwangi. Serta seluruh manusia yang memilih
berkubang kesedihan karena kehilangan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar