Pages

Kamis, 05 Februari 2015

Sajak Kematian Tanpa Duka



Sepi sesekali jadi tempat paling rumah,
Untuk bersembunyi.
Disana kesedihan diselami,
Bukan disesali.

Aku pernah berkali-kali ditinggal pergi :
Oleh kawan, kerabat, sahabat, dan kekasih yang bosan.
Juga menyaksikan kematian.
Bukan sekali, tapi berkali-kali.
Sampai lupa rasa sesak kehilangan,
Juga cara menangis di pemakaman.
Aku tahu, setiap kehilangan adalah pelajaran.
Dan setiap pelajaran, pantas dapat perayaan.

Lalu aku menulis sajak.
Karena aku tak tahu caranya berdoa,
Kupikir sajak seperti doa, atau cara lain merawat pusara.
Atau seperti ziarah, dan menabur bunga.
Dan aku tahu hanya dalam sajak,
Manusia mampu hidup selamanya
(meski hanya dalam kepala)


Makassar, pinggir jalan. Beberapa hari setelah ditampar nilai kuliah.

Untuk* Mukarom Sasefa, Yusriandi, Fadli Agusta dan Mutia A (Mereka setara), Ust Zakaria, Ust Jufri, Gurutta Wahab, Anang Guru Arief Liwa Paliwangi. Serta seluruh manusia yang memilih berkubang kesedihan karena kehilangan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar