Pages

Jumat, 17 Januari 2014

Danau Hitam





Danau itu berwarna hitam, sehitam malam yang habis diguyur hujan. Aku, tadinya curiga danau ini pernah terbakar, namun kutepis saat mengingat semua danau sama terisi oleh air. Air tak akan terbakar, sudah seperti itu ketentuannya, sejak dulu, jauh sebelum dimulainya kehidupan, Tuhan telah mengatur segalanya dengan sempurna. 

Hipotesis paling sederhana dan masuk akal, danau ini dulunya sejernih telaga, namun menghitam karena ulah tangan manusia yang tak paham cara menghargai alam. Atau mungkin danau ini memang tidak Tuhan peruntukkan bagi manusia, melainkan rumah bagi mahkluk air yang tak diberkahi perlindungan natural agar bisa hidup lebih lama berdasarkan ketentuannya.

Tempat ini sungguh lebih dari sempurna untuk sebuah kontemplasi panjang, tentang Tuhan, tentang hubungan manusia dan alam, atau tentang hal metafisik yang tak terjangkau akal pikiran manusia. Maka cukuplah adanya danau lain menjadi rahasia, agar tak lagi tersentuh tangan manusia. Agar tak ada lagi danau jernih yang berubah hitam seperti malam. Atau kisahkan para manusia serakah, tentang indahnya telaga yang terjaga, sadarkan mereka dengan kekuatan kata, ciptakan dunia dengan kumpulan danau dan telaga yang indah, bukan lagi sekedar kisah. Tapi menjadi sebuah wujud nyata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar