Pages

Jumat, 17 Januari 2014

Matamu Tentangmu





Kemarin kusaksikan kau dengan wajah lelah, juga penampakan resah juga marah. Itu bukan hal baru bagiku, karena seingatku tak banyak percakapan menyenangkan setelah kuungkapkan perasaanku padamu. Setelah kejujuran pengakuanku, kita lebih banyak canggung jika bertemu bahkan untuk mengobrol ringan sekalipun tak sebanyak dulu sebelum kau tahu perasaanku. Kuakui, tak menjalin hubungan dengan legalitas status yang remeh adalah pilihanku.

            Tapi matamu, entah kenapa selalu kutangkap banyak pesan dari tatapanmu. Matamu selalu berbicara padaku, bahwa kau sebenarnya lelah dengan sesuatu. Entah karena kepura-puraanmu atau kepura-puraanku, jelasnya kita selalu berpura-berpura saling tak menahu. Aku paham tiap pesan dalam kalimat-kalimat tersiratmu, begitupun kau mungkin banyak paham akan diamku yang sebenarnya tercipta, karena seluruh kalimatku banyak tertawan oleh pesonamu. Tapi masing-masing dari kita memilih tak terlihat tahu. 

            Aku bukannya jatuh cinta pada mata, atau apapun yang melekat di tubuhmu. Karena tak pernah sekalipun terpikir untuk kunikmati tubuhmu. Meski begitu, ini semua masih tentangmu. Tentang matamu yang kian sayu, mungkin karena setumpuk tugas kuliah yang kau kerjakan hingga larut. Atau karena beban pikiran yang berkaitan dengan tanggung jawab kelembagaanmu. Atau apapun masalah persetan yang mengganggumu hingga menyita waktu tidurmu, semua itu ikut menggangguku. Seharusnya dengan menjauhiku sudah cukup untuk menenangkanmu, toh tak akan ada lagi pria bodoh yang mengirimu sms yang menganggu, atau meneleponmu saat kau sesungguhnya butuh waktu untuk dirimu atau keluargamu.

            Sekarang lihat dirimu, begitu lesu, seperti hilang seluruh semangat hidupmu. Selalu tersenyum dalam kepalsuanmu, tak ingin terlihat kalah di depan seluruh kawanmu, tapi matamu. Matamu tetap sayu, dia lebih jujur dibanding senyum dan tawamu, dia berteriak marah padamu yang menyembunyikan masalah dari orang sekelilingmu. Jika memang tak sudi kau bagi masalahmu denganku, tak ingin kau biarkan aku menjadi pendengar bagi gelisahmu, maka cukuplah kawanmu yang meringankan bebanmu. Biarkan mereka menjadi penawar bagi keresahanmu, jika bagimu aku hanya menjadi pengganggu. Atau sesekali berbicaralah dengan matamu. Darinya mungkin kau akan tahu, betapa sering kau menyiksa dirimu. Cukuplah hari ini cerita tentangmu, sesekali kuharap aku juga bisa benar-benar menjadi kawan yang meringankan bebanmu. Harapku.
             
Ilustrasi gambar : Googling
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar