Kemarin
kusaksikan kau dengan wajah lelah, juga penampakan resah juga marah. Itu bukan
hal baru bagiku, karena seingatku tak banyak percakapan menyenangkan setelah
kuungkapkan perasaanku padamu. Setelah kejujuran pengakuanku, kita lebih banyak
canggung jika bertemu bahkan untuk mengobrol ringan sekalipun tak sebanyak dulu
sebelum kau tahu perasaanku. Kuakui, tak menjalin hubungan dengan legalitas
status yang remeh adalah pilihanku.
Tapi matamu, entah kenapa selalu
kutangkap banyak pesan dari tatapanmu. Matamu selalu berbicara padaku, bahwa
kau sebenarnya lelah dengan sesuatu. Entah karena kepura-puraanmu atau
kepura-puraanku, jelasnya kita selalu berpura-berpura saling tak menahu. Aku
paham tiap pesan dalam kalimat-kalimat tersiratmu, begitupun kau mungkin banyak
paham akan diamku yang sebenarnya tercipta, karena seluruh kalimatku banyak
tertawan oleh pesonamu. Tapi masing-masing dari kita memilih tak terlihat tahu.
Aku bukannya jatuh cinta pada mata,
atau apapun yang melekat di tubuhmu. Karena tak pernah sekalipun terpikir untuk
kunikmati tubuhmu. Meski begitu, ini semua masih tentangmu. Tentang matamu yang
kian sayu, mungkin karena setumpuk tugas kuliah yang kau kerjakan hingga larut.
Atau karena beban pikiran yang berkaitan dengan tanggung jawab kelembagaanmu.
Atau apapun masalah persetan yang mengganggumu hingga menyita waktu tidurmu,
semua itu ikut menggangguku. Seharusnya dengan menjauhiku sudah cukup untuk
menenangkanmu, toh tak akan ada lagi pria bodoh yang mengirimu sms yang menganggu, atau meneleponmu
saat kau sesungguhnya butuh waktu untuk dirimu atau keluargamu.
Sekarang lihat dirimu, begitu lesu,
seperti hilang seluruh semangat hidupmu. Selalu tersenyum dalam kepalsuanmu,
tak ingin terlihat kalah di depan seluruh kawanmu, tapi matamu. Matamu tetap
sayu, dia lebih jujur dibanding senyum dan tawamu, dia berteriak marah padamu
yang menyembunyikan masalah dari orang sekelilingmu. Jika memang tak sudi kau
bagi masalahmu denganku, tak ingin kau biarkan aku menjadi pendengar bagi gelisahmu,
maka cukuplah kawanmu yang meringankan bebanmu. Biarkan mereka menjadi penawar
bagi keresahanmu, jika bagimu aku hanya menjadi pengganggu. Atau sesekali
berbicaralah dengan matamu. Darinya mungkin kau akan tahu, betapa sering kau
menyiksa dirimu. Cukuplah hari ini cerita tentangmu, sesekali kuharap aku juga
bisa benar-benar menjadi kawan yang meringankan bebanmu. Harapku.
Ilustrasi gambar : Googling

Tidak ada komentar:
Posting Komentar