Menuai Siri’ Mengakhiri Syair
Entah sejak kapan jadi begini ?
Bissu yang dulu manusia suci
Berubah reputasi, engkau sebut banci
Lalu siri’,
menjadi sama dengan magelli
Entah kapan
dimulainya ?
Siri’
berubah jadi budaya iri
Membenci, sakit
hati, dengki
Saat tak
berhasil mencapai kedudukan tertinggi
Lalu harga diri
Berubah jadi budaya jual diri
Yang acuh pada nurani
Demi kepuasan perut sendiri
Dan sejak kapan
?
Perahu-perahu pinisi
Menciut dan
berubah fungsi
Jadi pajangan di
ruang tamu
Lalu Andi’,
Karaeng, Daeng, Arung
Kini tak lebih dari silsilah
Tak lagi seperti dulu
Sebagai penerima hormat masyarakat
Sebagai penimbang keputusan dalam adat
Karena kini para
Andi’ tak lagi berani
Karaeng,
dan
Daeng tak lagi madeceng
Para Arung sudah tak mampu bertarung
Masing-masing
hanya jadi awalan
Sebagai
pelengkap nama dalam surat keterangan
Lalu kemana para pelaut ?
Yang dulu membelah laut hingga ke Aru
Dan tersohor sebagai hantu
Hingga jauh di tanah Eropa
“Boogie Man”sebut
para Eropa untuk mereka
Hai kau yang
lahir di Selatan Sulawesi
Syair ini takkan
selesai
Jika siri’mu belum kau tuai
Maka
“selesaikanlah !”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar