B U M I: Pri-Letar

Pri-Letar



(sebuah puisi #melawanlupa)
Di bawah jurang yang kekar
Hidup sekumpulan proletar
Yang jalani hidup dengan tegar
Meski sesekali berusaha keluar
Menggapai puncak dengan cakar
Di puncak tebing yang tinggi
Hidup sekumpulan pribumi
Yang membenci diri sendiri.
Pribumi-pribumi yang mengabdi
Kepada maling barat berdasi
Dalam sebuah Negara
Pribumi dan proletar hidup bersama
Menjalani hidup dengan sama :
Sama-sama diperah tenaganya
Supaya maling barat bertambah kaya,
Sama-sama dikeruk tanah lautnya
Hingga habis tak bersisa
Buat jatah generasi selanjutnya.
Pribumi dan proletar memanglah sama
Tapi hanya soal Negaranya
Soal jalan mereka beda :
Proletar berjalan di atas belukar
Yang tebal dan patahkan cakar
Buat berjuang para proletar,
Proletar  juga menolak lupa
Soal darah para buyutnya
Sungguh pantang tumpah percuma.
Sedang pribumi pura-pura tuli
Sebab pribumi tak peduli :
Meski harus jadi piaraan kapital
Atau sujud di bawah kaki imperial
Asal hidup senyaman kolonial
Saudarapun tak kukenal
Keluargapun kubantai massal.
Dalam sebuah realita
Sungguh fana hidup bahagia
Jika memilih jalan mulia.
Lihat Ghandi di India !
Atau proletar Wiji Munir Marsinah di Indonesia !
Adakah dari mereka
Yang hidup tanpa sengsara ?
Mereka bahkan berpulang jiwa
Dalam genggaman tangan saudara sebangsa :
Para pribumi yang dipiara
Oleh bedebah berjuta wajah :
Manusia berjiwa lintah
Yang kekal hidupnya dari darah.

Makassar, pada suatu malam yang kaca.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Copyright © B U M I Urang-kurai