Bumi yang Senasib
Saudara
? jangan kau tanya, soal keluarga jangan juga ! sebab secara makna “aku tak
pernah punya” jangan juga kau tanyakan soal sahabat apalagi teman, sebab aku
tak pernah benar-benar memilikinya. Aku hanya punya beberapa orang kenalan, dan
beberapa orang yang masih berbelas kasihan pada seorang lelaki yang kesepian.
Sudah sejak lama mereka menamaiku
Bumi, nama satu-satunya planet yang berpenghuni di Galaksi ini. Lama juga baru
kusadari alasan mereka menamaiku Bumi, kurasa karena nasib serupa. Kau tahu ? “meski
jadi satu-satunya yang dihuni di Galaksi Bumi adalah planet yang paling
merasakan sepi” mungkin tak masalah bagi planet lain sebab sedari awal
penciptaan mereka hanya dihuni sepi, tanpa semarak penghuni yang hidup lalu
mati.
Bagi Bumi, kesepian bukanlah pilihan
melainkan sesuatu yang diterima sebagai nasib sejak awal penciptaan. Tuhan
memang masih berbaik hati menciptakan beberapa planet selain Bumi sebagai teman
bicara, tapi jaraknya berjuta-juta tahun cahaya dan butuh waktu yang sama
lamanya bagi Bumi untuk mendengar suara mereka. Atau mungkin, planet lain
merasa cemburu karena Bumi satu-satunya yang berbeda, lalu mereka
mengasingkannya hingga tiba akhir masa.
Apapun itu, yang aku tahu diriku si
Bumi manusia dan Bumi yang sebenarnya bernasib sama. Sama-sama dirudung luka,
dan kelak menikmati hari tua tanpa teman bicara. Lalu bagaimana dengan
hari-hari yang kulewati sebelumnya, apa harus kulupakan mereka yang pernah
singgah atau kubiarkan saja sebagai kenangan.
Atau mungkin aku yang lebih luka, sebab
punya semua yang tak dimilikinya tapi merasa tak punya apa-apa. Aku punya
keluarga, orang tua yang tak pernah ingat hari ulang tahun anaknya, juga
adik-adik yang membenci kakaknya kecuali adikku yang masih balita (aku yakin
setelah dewasa dia akan membenciku juga). Aku juga punya teman dan sahabat,
maksudku “punya orang yang mengaku teman dan sahabat” dan hanya mengakuiku jika
mereka butuh sesuatu untuk ditertawakan (yah, mereka senang menertawakan
kesendirianku), atau saat mereka butuh sesuatu yang lain dariku baru kemudian
mereka menjadi teman atau sahabatku.
Soal yang sejati, memang tak pernah
Bumi miliki (entah aku, entah Bumi yang asli) makanya kami terus mencari,
sambil sekali mengutuk pada sang pemilik masa agar segera menjawab doa dua Bumi
yang nyaris bernasib sama.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar