Pages

Senin, 09 Februari 2015

Surat Cinta Untuk Bunda "Tentang Aku dan Perjuangan"


            Untuk Bunda, semesta dan segalaku.
            Ketika memendam sesuatu semisal perasaan, tanpa sadar kita menciptakan bom yang bisa meledak karena dua alasan :

1.     Tombolnya baru saja ditekan
2.     Mekanisme picu waktunya telah habis masa

Tulisan ini ada karena alasan kedua. Sebagai penyair (sebut saja demikian) ketakutan terbesarku adalah hilang kata, dan kau tahu bunda “di hadapanmu aku kehilangan segalanya” mendadak aku berhutang kalimat untuk kusampaikan. Bukan untuk kupamerkan, tapi untuk menegaskan bahwa terlepas dari seluruh perangai yang kutampakkan “aku mencintaimu dengan segenap kesadaran” biarlah aku dicibir orang-orang asal tulisan ini bunda baca.

Beberapa malam setelah telepon terakhir bunda yang memintaku pulang, semestaku hilang sejenak, seluruh atensiku tertumpu pada kenangan tentang rumah, tentang ayah, tentang adik yang masih balita, dan dua adik remajaku yang sering bertengkar denganku. Tahukah bunda bahwa tiap kalimat, tiap permintaan bunda untuk lekas sarjana, juga pinta bunda yang memintaku cukup jadi mahasiswa yang kejar ijazah agar aku bisa hidup layak nantinya. Sesungguhnya seluruh kata yang kutangkap sebagai suara, semua kusesap habis hingga ke ubun-ubun kepala, tak habis kuserap sebagai kata pun juga sebagai makna.

Biar kujelaskan semuanya agar bunda tak salah paham, sejujurnya aku masih manusia. Biar kuingatkan kalau sebelumnya kita tak menghabiskan waktu terlalu banyak selayaknya anak dan orang tua. Dalam 20 tahun masa hidupku, enam tahun kuhabiskan dengan orang tua ayah, tiga tahun kuhabiskan berasrama untuk belajar ilmu agama, tiga tahun bersama ayah bunda di masa SMA (itupun separuhnya diisi pembangkangan masa remaja). Lalu disinilah aku sekarang, dan dari sedikit waktu yang kuhabiskan bersama kalian aku menyesal hampir seluruhnya kulalui tanpa terima kasih dan kata maaf.

Tahukah bunda alasannya, kenapa belakangan aku tak lagi banyak meminta meski aku begitu menginkan sesuatu ? Akupun merindukan rumah bunda, rindu ayah, rindu kedua adikku yang remaja (bertengkar dengan mereka), rindu adikku yang masih balita tapi ingin tahu segalanya, rindu masakan bunda, tapi “maaf bunda” aku pantang pulang sekarang.

Biar kutegaskan “ini adalah hukuman” untuk diriku sendiri tentunya. Aku tak yakin bisa sarjana bunda, aku tak bisa menjanjikan kelak bisa dijejerkan sebagai salah satu putra terbaik desa kita. Ingatkah bunda dengan tabiatku yang pembangkang ? sepertinya ini kudapat dari ayah “bunda pikir apa alasannya ayah berkali-kali kehilangan pekerjaan ? “ aku tebak karena ia juga gemar melawan atasan. Tabiat ini terwaris dari sejarah ke darah, begitulah mekanisme genetika manusia bekerja sepertinya. Sementara institusi pendidikan hari ini enggan mendidik mahasiswa pembangkang, mereka hanya ingin meluluskan mahasiswa baik-baik agar tidak buruk citranya di mata penguasa. Tidakkah bunda merasa alasan keraguanku makin terang ?. Berita tentang pejabat  kampusku yang korupsi dengan jumlah fantastis kemarin hari dimuat di surat kabar, dan itu aib besar bagi sebuah institusi pendidikan.

Adakah alasanku untuk diam saja ? Bunda, tahukah bunda kalau aku adalah generasi terakhir dalam sejarah pendidikan tinggi yang uang kuliahnya disubsidi Negara, yang berarti bukan ayah bunda satu-satunya yang berjasa jika nanti aku jadi sarjana. Disubsidi Negara berarti, aku kuliah disokong uang rakyat dari seluruh kelas sosial yang ada. Dalam skala probabilitas ilmu statistik, subsidi itu bisa saja berasal dari pungutan Negara yang diambil dari nelayan seberang rumah yang tiap hari harus melaut dan bertaruh maut, atau dari hasil tanah milik petani belakang rumah yang kesabarannya menunggu musim selalu membuatku kagum.

Sekarang aku tinggal di ibukota, setiap hari dalam perjalanan dari rumah ke kampus atau sebaliknya selalu aku saksikan banyak anak menghabiskan waktunya dijalanan, entah sebagai pengamen, atau tukang Koran. Jalanan adalah tempat bermain mereka, sekaligus sekolah tentunya karena pendidikan yang biayanya semakin mencekik. Lalu penguasa menaikkan harga-harga seenaknya, sembari mengira tak ada yang merasa menderita karenanya. Petani di belakang rumah, nelayan dan kapalnya, anak-anak jalanan di ibukota, hatiku menangis setiap hari, mataku setiap detik tersiksa menahan lelehan airnya karena takut dibilang cengeng. Mereka yang melarat tapi masih rela memberi bantuan kepadamu yang sebenarnya cukup agar aku bisa jadi sarjana “dimana rasa terima kasihku ketika diam saja ?” bagi setiap manusia yang masih merasa manusia,dan mahasiswa yang masih mahasiswa : bukankah hampa dan kering makna ketika gelar sarjana kudapatkan mudah saja, padahal aku belum berguna apa-apa bagi siapa-siapa.

Aku ingin tetap jadi manusia bunda. Bukan jadi robot pekerja yang menghabiskan waktunya tanpa rasa, tanpa sedikitpun membantu sesama hingga habis masa. Biarkan aku berjuang selagi keberanianku masih ada, selagi belum ada anak istri yang harus kupusingkan nasibnya di rumah, selagi nuraniku masih ingat cara menangis dan meronta kala merasai kepahitan nasib orang-orang sekitar. Boleh kau coret aku dari kartu keluarga bila tak rela anakmu ini jadi tumbal perjuangan, aku ihklas dengan sungguh demi status sosial dan seluruh tanggun jawab yang kuemban sekarang. Bunda, aku tahu kau mengenalku selalu makanya aku lancang meminta restu.

Negeri ini merdeka bunda, tapi hanya bagi penguasa dan kaki tangannya. Izinkan aku mengejarnya sebagai baktiku paling berharga. Untuk membayar seluruh hutang dosa.


Dari seorang anak, yang tak pernah mencintaimu dengan layak.

Kamis, 05 Februari 2015

Sajak Kematian Tanpa Duka



Sepi sesekali jadi tempat paling rumah,
Untuk bersembunyi.
Disana kesedihan diselami,
Bukan disesali.

Aku pernah berkali-kali ditinggal pergi :
Oleh kawan, kerabat, sahabat, dan kekasih yang bosan.
Juga menyaksikan kematian.
Bukan sekali, tapi berkali-kali.
Sampai lupa rasa sesak kehilangan,
Juga cara menangis di pemakaman.
Aku tahu, setiap kehilangan adalah pelajaran.
Dan setiap pelajaran, pantas dapat perayaan.

Lalu aku menulis sajak.
Karena aku tak tahu caranya berdoa,
Kupikir sajak seperti doa, atau cara lain merawat pusara.
Atau seperti ziarah, dan menabur bunga.
Dan aku tahu hanya dalam sajak,
Manusia mampu hidup selamanya
(meski hanya dalam kepala)


Makassar, pinggir jalan. Beberapa hari setelah ditampar nilai kuliah.

Untuk* Mukarom Sasefa, Yusriandi, Fadli Agusta dan Mutia A (Mereka setara), Ust Zakaria, Ust Jufri, Gurutta Wahab, Anang Guru Arief Liwa Paliwangi. Serta seluruh manusia yang memilih berkubang kesedihan karena kehilangan.

Minggu, 01 Februari 2015

Surat Cinta Untuk Tuhan Yang Pendiam

Jangan salah paham, aku bodoh jika menerkanya sebagai mungkin saja. Bukannya Kau paham segalanya. Sedang “jangan salah paham” hanya kalimat pembuka untuk sekedar basa-basi. Kau telah paham segalanya jauh sebelum permulaan (bahkan kau yang berikan). Ini bukan tentang aku yang membenciMu, kita tahu semuanya telah berlalu. Semua soal jarak, aku jauh dariMu terlalu lama hingga jadi rutinitas lantas lupa caranya pulang. Lalu masihkah ada kesempatan setelah segala taubat yang kupermainkan ?
            Kemarin aku digurui salah satu mahklukMu. Ia mengaku hadir pada masa pertunjukan penciptaan manusia pertama, juga mengaku sebagai pelaku yang mengingkari keberadaan manusia dan menyangkal hakikat penciptaannya. Ia bilang cemburu menguasainya dan akan jadi tabiat hingga kiamat (begitulah kemudian mulanya cemburu dikenal lalu diajarkan pada seluruh garis keturunan manusia).
            Aku di beri pengajaran oleh sang guru yang mengingkari manusia, bahwa diamnya Tuhan adalah emas. Kemudian menyimpulkan sebagai kewajaran setiap firman yang dipalsukan selayaknya emas dikaratkan. Belajar dari peristiwa yang kusaksikan sehari-hari di televisi, tentang ayat-ayat Tuhan yang sukarela melacur di mulut calon penguasa. Bukankah semua titik hubung ini memberi penjelasan ? Tuhan telah bersikap selayaknya Tuhan “DIAM” dan itu benar-benar emas bagi para pendosa.
            Pernah aku dicibir seorang kawan karena tak memujiMu dalam bahasa kitab. Lihatlah karena Kau diam, salah satu hamba mengira Kau tak bisa bahasa Indonesia. Padahal pernah ada kutipan “Kau berjanji mengabulkan segala doa seluruh bahasa” entah terdapat pada firman, atau sabda rasul akhir zaman.

            Aku tahu bahwa Kau telah lama tahu, tentang aku yang mencintaiMu dengan sungguh dan seluruh. Seperti cinta seorang Qais kepada Laila hingga gila, seperti cinta seorang ilmuwan pada penemuan jawaban, seperti cinta seorang filsuf  pada pertanyaan. Bersama surat ini aku memohon izinMu, untuk melangkahi waktu beberapa anak tangga. Agar ada cerita yang berakhir segera, dan tak terlalu lama aku menunggui Neraka. Karena aku lelah bertahan pada hukuman pengabaian yang Kau lakukan. Tolong beri alasan, bila caraku mencintaiMu adalah salah. Ajari aku cara kebenaran, jangan diamkan kesalahan yang kulakukan.

Makassar, bersama kopi dan kretek yang diam-diam habis.

NB : Tulisan ini untuk Tuhan yang mungkin sedang sibuk membaca doa-doa para hamba di dunia maya.


#Bukan30HariMenulisSuratCinta

Sabtu, 31 Januari 2015

Bunuh Rindumu ! Sebelum Terbunuh Lebih Dulu

1
Buku catatanku hampir penuh
Seperti jalanan yang semut
Oleh kerumunan demonstrasi.
Disana ada mahasiswa dan polisi.
Tapi catatanku tak penuh karena orasi
Hanya namamu dan puisi

2
Seharusnya kubunuh saja sejak pertama kali
Sejak tahu rindu berbahaya
Seperti penderita gangguan jiwa
Yang membunuh agar bahagia,
Menyiksa buat senang-senang saja.

3
Kadang rindu punya banyak jelmaan
Sekali waktu, jadi mahasiswa yang tutup jalan
Berteriak dengan pengeras suara
meski tahu sia-sia saja.
Yang dirindukan tak punya telinga
Seperti wakil rakyat ditegur mahasiswa
(Hanya buang-buang tenaga).

Barangkali mahasiswa sedang lupa
Di pekarangan rumah orang yang dirindukan
Ada tembok tebal kedap suara

4
Berhatilah-hatilah pada rindu,
Jika tanpa alamat.
Kalau tersesat,
Kau berdiam di sana hingga sekarat.

5
Bunuh rindumu,
Sebelum terlambat waktu.
Sebelum ia membunuhmu,

Lebih dulu.


Makassar akhir bulan, di sebuah warung kopi.

Selasa, 27 Januari 2015

Meludahi Wajahnya Tiap Kata

Puisi ini ditulis sebagai hadiah perpisahan untuk dekan fakultasku yang lama, dari mahasiswa-mahasiswa yang berterima kasih atas perhatian TULUSnya.

1/ Adalah aku yang selalu kau sebut sampah, tapi tak masalah. Sebab sampah tak salah jika ia berguna, asal ia berkarya.

2/ Sementara ada yang berlagak emas padahal tak pernah melebihi tembaga. Seperti pelaut kampung berlagak ulung, padahal kapalnya tak kemana-mana. Atau seperti fakultas yang akreditasinya tak berubah jaya, padahal pimpinannya telah khatam keliling Eropa.

3/ Lalu ada yang berupaya mencari sembelihan buat ditumbalkan, agar ia tak disalahkan. Dipersoalkanlah tanah yang kutempati membangun gubuk dan taman, tanah yang kemarin ia biarkan jadi tempat buang kotoran “aku tahu isi kepalamu menjijikkan, tapi tak usahlah kau tularkan” kamu iri, iya kan ?.

4/ Lebih baik aku berteman dengan pemabuk, daripada berteman dengan penipu. Pemabuk mengajarkanku jadi orang jujur, penipu senang berjanji tapi ingkar (seperti akreditasi) juga mengajarkanku tak jujur sebagai diriku.

5/ Kemudian aku berpikir mengganti nama menjadi serupa dengan ia, yang menyangka namanya paling maha. Sayangnya ia telah tiada sebagai tuan, selamat jalan.

*Penulis enggan dibilang sok jagoan, juga terlalu penakut untuk standar seorang pahlawan. Tapi penulis masih tahu caranya melawan, bukan mencari lawan (hanya tak elok saja mendiamkan serangan).

Parangloe, 24 Januari 2015

Sabtu, 03 Januari 2015

Mungkin Masalah Hati (1)



Aku ingin punya tempat sampah yang bisa bicara.
Seperti mulut calon pejabat yang senang mengumbar kata.
Tapi cukup jadi puisi saja.
Aku bisa kehilangan nyawa bila sungguh melakukannya.

Aku mengagumi bulan yang begitu setia mencintai pagi,
Meski tahu pagi telah menambatkan hati pada matahari.
Tapi hati adalah teka-teki paling misteri,
tak akan kau pahami jika tak kau selami.
Jadi jangan heran bila suatu hari :
Konglomerat, ningrat, dan pejabat tiba-tiba jadi merakyat,
Barangkali akan ada pemilihan umum esok pagi.

            Sabtu malam, mengawali tahun beberapa hari.