Pages

Rabu, 11 Juni 2014

Bumi yang Senasib



            Saudara ? jangan kau tanya, soal keluarga jangan juga ! sebab secara makna “aku tak pernah punya” jangan juga kau tanyakan soal sahabat apalagi teman, sebab aku tak pernah benar-benar memilikinya. Aku hanya punya beberapa orang kenalan, dan beberapa orang yang masih berbelas kasihan pada seorang lelaki yang kesepian.
            Sudah sejak lama mereka menamaiku Bumi, nama satu-satunya planet yang berpenghuni di Galaksi ini. Lama juga baru kusadari alasan mereka menamaiku Bumi, kurasa karena nasib serupa. Kau tahu ? “meski jadi satu-satunya yang dihuni di Galaksi Bumi adalah planet yang paling merasakan sepi” mungkin tak masalah bagi planet lain sebab sedari awal penciptaan mereka hanya dihuni sepi, tanpa semarak penghuni yang hidup lalu mati.
            Bagi Bumi, kesepian bukanlah pilihan melainkan sesuatu yang diterima sebagai nasib sejak awal penciptaan. Tuhan memang masih berbaik hati menciptakan beberapa planet selain Bumi sebagai teman bicara, tapi jaraknya berjuta-juta tahun cahaya dan butuh waktu yang sama lamanya bagi Bumi untuk mendengar suara mereka. Atau mungkin, planet lain merasa cemburu karena Bumi satu-satunya yang berbeda, lalu mereka mengasingkannya hingga tiba akhir masa.
            Apapun itu, yang aku tahu diriku si Bumi manusia dan Bumi yang sebenarnya bernasib sama. Sama-sama dirudung luka, dan kelak menikmati hari tua tanpa teman bicara. Lalu bagaimana dengan hari-hari yang kulewati sebelumnya, apa harus kulupakan mereka yang pernah singgah atau kubiarkan saja sebagai kenangan.
            Atau mungkin aku yang lebih luka, sebab punya semua yang tak dimilikinya tapi merasa tak punya apa-apa. Aku punya keluarga, orang tua yang tak pernah ingat hari ulang tahun anaknya, juga adik-adik yang membenci kakaknya kecuali adikku yang masih balita (aku yakin setelah dewasa dia akan membenciku juga). Aku juga punya teman dan sahabat, maksudku “punya orang yang mengaku teman dan sahabat” dan hanya mengakuiku jika mereka butuh sesuatu untuk ditertawakan (yah, mereka senang menertawakan kesendirianku), atau saat mereka butuh sesuatu yang lain dariku baru kemudian mereka menjadi teman atau sahabatku.
            Soal yang sejati, memang tak pernah Bumi miliki (entah aku, entah Bumi yang asli) makanya kami terus mencari, sambil sekali mengutuk pada sang pemilik masa agar segera menjawab doa dua Bumi yang nyaris bernasib sama.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar